I Kadek Satria
I Kadek Satria
sewa motor matic murah dibali

DENPASAR, balipuspanews.com– Dalam pelaksanaan hari suci selama satu tahun wuku,  akan menjumpai Hari Suci Galungan dimana dalam rangkaiannya ada kegiatan Penampahan Galungan. Kata penampahan berasal dari kata tampah yang artinya membunuh, bisa juga berarti nampa (mempersembahkan) atau namya yang artinya nyomya, atau merubah.

“Untuk memperoleh pemaknaan maka penting mencari definisi dari kata untuk memenuhi makna yang terkandung didalamnya. Kalau kita berorientasi pada pengertian penampahan sebagai salah satu laku membunuh, mempersembahkan sampai pada nyomya, maka tiga pengertian kata ini cukup memberikan pesan terhadap apa sesungguhnya makna hari penampahan ini, jadi bahwa dihari selasalah waktu yang tepat nampah bukan pada hari senin seperti yang banyak dilakukan orang” demikian disampaikan akademisi I Kadek Satria.

Pembunuhan dilakukan dengan memotong hewan korban (persembahan jiwa binatang dengan tujuan untuk dipersembahkan). Setelah persembahan itu, selanjutnya diharapkan agar memberikan penyomyan atau merubah. Merubah hal negatif agar menjadi positif, karena inilah sesungguhnya esensi dari perubahan.

Pemotongan hewan kurban yang paling kentara adalah hewan berupa babi. Dalam tri guna kita mengenal satwam (simbolnya adalah bebek), rajas (simbolnya adalah ayam) dan tamas (simbolnya adalah babi).

Hewan korban yang dipersembahkan dalam penampahan sebagian besar adalah babi, hal ini karena dalam kontek galungan merupakan pemujaan Dhurga atau memuja Shakti Siwa yang apabila memurti akan memberikan penderitaan terhadap segala mahluk.

Namun dikala saat itu dilakukan penyomyan dengan menggunakan olahan daging babi, maka semua akan menjadi damai sebab sudah ada unsur pengharapan dan doa dari umat yaitu perubahan dari unsur memurti menjadi damai, unsur keras menjadi lembut, dari Dhurga menjadi Parwati, mendamaikan.

Selain itu pula unsur-unsur Dhurga juga adalah penguasaan, makanya pelaksanaan ini dilakukan pada saat hari selasa dungulan yang diyakini Sang Kala Tiga Wisesa sebagai pengejawantahan Sang Hyang Dharma untuk menguji manusia dalam menyambut kemenangan.

Diyakini Sang Bhuta Amangkurat yang turun saat anggara dungulan. Kata amangkurat memiliki pengertian penguasaan, menguasai alam semesta (bhuwana agung) dan Bhuwana Alit (badan). Dalam hal ini jelas bahwa memotong babi sebagai upaya atau simbol bahwa umat bisa menguasai diri manusia dari kuatnya indria, kuatnya ego, serta berbagai musuh yang ada dalam diri.

Disinilah pengertian nyomya atau merubah unsur negatif menjadi positif bisa kita gunakan.
Galungan adalah kemenangan, kemenangan atas diri yang sudah mampu menguasai dirinya dari berbagai macam musuh baik intern maupun ekstern. Inilah kemudian disebut dengan patitis ikang adnyana (mencapai yang disidhikan).

“Kesidhian itu hanya akan diperoleh jika kita sudah waged (teguh) dalam mengelola diri, kemampuan mengelola diri inilah kemudian akan menjadi upaya untuk mencapai yang diharapkan itu. Galang apadang akan diperoleh jika semua sudah terkendali, sudah baik dan sudah rahayu,” jelas Satria.

Maka kunci dari kemenangan adalah penguasan diri. Jika penguasaan ini sudah selesai maka kemenangan akan tergapai. Sang Hyang Tiga Wisesa ( Bhuta Dungulan, Bhuta Galungan, Bhuta Amangkurat) sesungguhnya adalah jelmaan dari Sang Hyang Dharma yang bertujuan untuk sebagai penguji, menguji dan ingin melihat manusia dalam tapa dan brata sebagai salah satu upaya mencapai yang baik itu.

Ketiga kala itu selalu ingin unggul (dungul), sehingga turunnya kala ini tepat pada wuku dungulan, karena selalu ingin unggul di dalam diri manusia. Sesungguhnya mereka adalah simbul angkara atau tidak suci, karena tidak suci inilah maka pada saat galungan saatnya merubah diri menjadi suci, yaitu membuat fikiran menjadi suci, kata-kata menjadi suci dan perbuatan menjadi suci.

Ketiga kala inilah yang mesti disucikan sehingga saat adanya hari kesucian ini,  berharap kesucian pula sebagai anugerah dari beliau.
Bhuta Galungan merupakan serangan dimulai, godaan dimulai dan saat itu pula manusia mesti siap dalam mematangkan diri (panyekeban).

Selanjutnya adalah Sang Bhuta Dungulan yang artinya bhuta yang selalu ingin menundukan atau mengalahkan. Dan yang terakhir adalah bhuta amangkurat yang memiliki pengertian menguasai (amangkurat). Ketiga inilah yang mesti dihadapi manusia dan mesti disomya saat pelaksanaan panampahan. Dalam ritual saat ini kita diharapkan melakukan persembahan berupa segehan agung, nasi sasah meulam bawi berupa urab-uraban,  pabersihan, prayascita, byakawonan, sesayut pemyakala yang dilakukan saat sandyakala atau pertemuan waktu.

Kemenangan yang sesungguhnya bukan pada saat babi mati dibunuh, tetapi ketika kita mampu merubah karakter raksasa dalam diri menjadi karakter dewata sehingga kata somya atau merubah menjadi baik, suci sebagai sebuah kenyataan.

Berbagai laku ritual jika hanya dilakukan tanpa pemaknaan dengan fikiran jernih mungkin kurang lengkap. Sehingga dengan demikian mesti  dilengkapi pemahaman dan pengetahuan, jangan sekali-kali berhenti pada ritual, tetapi pertajam dengan prilaku dalam keseharian.

Hal ini pula akan menyebabkan kemenangan itu sesungguhnya kita lakukan setiap hari, karena kemenangan dharma itu memang setiap hari mestinya. Bukankah setiap hari kita selalu mempertentangkan tentang perbuatan baik dan buruk? Jika demikian dan disadari maka sesungguhnya dalam tataran tattwa umat sedharma melakukan Hari Suci Galungan setiap hari, karena seharusnya Dharma selalu dimenangkan setiap hari. (bud/bpn/tim).