Membaca Jejak Wianta

Keterangan foto: Almarhum I Made Wianta (baju biru bergaris-garis) bersama keluarga besarnya dalam wisata bersama
Keterangan foto: Almarhum I Made Wianta (baju biru bergaris-garis) bersama keluarga besarnya dalam wisata bersama

 

TABANAN, balipuspanews.com – Bali baru saja berduka. Ini dikarenakan seorang maestro lukis kelahiran Desa Apuan Baturiti, 20 Desember 1949 I Made Wianta berpulang pada tanggal 13 November lalu dan diaben pada tanggal 16 November lalu.

Sebagai seorang maestro ternama, tentu ada berbagai hal menarik yang melekat pada sosok almarhum Wianta. Seperti halnya yang terungkap dari salah satu keponakannya, Mangku Wayan Sumerta. Seperti apa jejak rekamnya terhadap almarhum? Berikut penuturannya.

Ditemui dikediamannya di Desa Apuan, Baturiti, Kamis (26/11), Mangku Sumerta mengaku sangat kehilangan atas berpulangnya almarhum. Baginya dan keluarga besarnya, Wianta diibaratkan sebagai orang tua.

“Almarhum merupakan sosok yang kami tuakan dan sangat kami hormati karena perhatian dan kepeduliannya terhadap keluarga. Baik perhatian dari sisi pemikiran maupun dari sisi materi,” ungkapnya.

Mangku Sumerta menyebutkan, Wianta merupakan sosok yang energik dan kreatif. Sehingga karya-karya lukisnya beda dengan pelukis terkemuka lainnya dan tidak monoton.

“Dalam hidupnya, almarhum tidak bisa berdiam diri. Prinsipnya selalu bekerja, bekerja dan bekerja,” kenangnya.

Energik, kreatif dan tidak bisa berdiam diri ini menjadikan sosok almarhum Wianta seakan hidup untuk berkarya. Ketika bosan melukis, seniman yang juga piawai bermain teater ini mengisi waktu dengan membuat puisi. Mangku Sumerta menyebutkan, selain selalu memegang kuas, Wianta tidak pernah lepas dari kertas dan pulpen untuk menuangkan beragam inspirasinya kedalam puisi.

Dalam berkarya imbuh Mangku Sumerta, sosok Wianta sangat bebas. Meski demikian, ia sangat disiplin dan dedikasi hidupnya mutlak berkesenian. Khususnya dalam seni lukis dan puisi.

Kebebasannya dalam berkarya menjadikan sosok Wianta seakan menggerakkan diri dan hidupnya sendiri. Sehingga ia tidak pernah tergantung dengan orang lain dalam beragam hal.

Mangku Sumerta mewakili keluarga besarnya juga merasa bangga dengan almarhum Wianta. Ini dikarenakan, keenergikannya, kekayaan ide, kedisiplinan dan dedikasinya menjadikan Wianta telah menempatkan dirinya dalam pergaulan international. Tentu saja bermula dari karya-karya lukisannya yang dikenal masyarakat dunia melalui pameran-pameran yang pernah digelarnya diberbagai negara.

Penulis: Ngurah Arthadana

Editor: Oka Suryawan