Doodle Art atau seni mencorat-coret yang menjadi materi utama pada Kelas Kreatif di Bentara Budaya Bali, Ketewel, Gianyar pada Sabtu (8/12)
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Gianyar, balipuspanews.com-Kurun waktu belakangan, Doodle Art atau seni mencorat coret kian populer khususnya bagi generasi milenial. Banyak kreator yang menjadikan bidang seni ini sebagai ruang ekspresi, selaras tumbuh dan berkembangnya sejumlah komunitas yang mewadahi para penekun Doodle Art di berbagai kota di Indonesia.

Selaras itu, program Kelas Kreatif Bentara yang berlangsung Sabtu (8/12) di Bentara Budaya Bali (BBB) secara khusus akan mengetengahkan lokakarya tentang membuat Doodle Art.

Bukan sekadar corat coret biasa, Doodle Art merupakan gambar dalam bentuk-bentuk  imaginatif dan beragam, biasanya bersifat abstrak namun ada pula yang dibuat demikian rapi. Aneka kreasi Doodle Art dapat ditemui dalam pelbagai medium, misalnya digunakan sebagai motif desain fashion, motif tas, kemasan produk, animasi semisal yang Doodle yang dimunculkan Google pada laman pencariannya, dan masih banyak lainnya.

Kelas Kreatif kali ini bekerjasama dengan Komunitas FODA atau Full Of Doodle Art. Sebagai narasumber yakni Yessi Nur Mulianawati (Yessiow), pendiri Komunitas FODA Indonesia serta Ida Bagus Herry Yasmana dari Komunitas FODA Bali.

Nama Yessiow sudah tidak asing dalam pergaulan seni, khususnya kalangan pegiat Doodle Art. Yessiow merupakan lulusan Desain Komunikasi Visual, Telkom University, Bandung. Dia menggunakan “doodle art” sebagai media pilihannya karena dia merasa ide dan imajinasinya paling baik diekspresikan dalam bentuk makhluk dan ornamen. Karya-karyanya sangat khas melalui penggunaan imaji berani yang dikombinasikan dengan warna-warna pastel, yang telah menjadi ciri khasnya.

Selain aktif terlibat  dalam pameran di berbagai acara, ia juga mendirikan salah satu komunitas doodle terbesar di Indonesia, yaitu FODA (Full of Doodle Art) pada tahun 2012 yang kini telah berkembang di 10 kota. Secara rutin FODA melaksanakan berbagai kegiatan, antara lan Gathering, Skill Sharing, Mini Exhibition, Workshop.

Komunitas ini memiliki keinginan yang kuat untuk memperkenalkan doodle art kepada khayalak luas. Dan ingin merubah pandangan orang orang bahwa doodle art adalah salah satu penggayaan yang perlu dipandang penting.

Sejumlah sumber menyebutkan, istilah Doodle pertama kali muncul pada awal abad ke-17 dan diyakni berasal dari bahasa Jerman atau Nudeltopf Dusseldorf yang berarti bodoh atau kebodohan.  Makna kata tersebut juga hadir dalam lagu “Yankee Doodle” yang awalnya dinyanyikan oleh pasukan kolonial Inggris sebelum Perang Revolusi Amerika. Sementara itu, pemaknaan Doodle sebagai bagian dari komunitas kreatif mengalami perluasan pemahaman selaras dengan era kemoderanan dan kontemporer.

Kelas Kreatif Bentara kali ini akan membahas perihal seluk beluk Doodle Art berikut perkembangannya di Indonesia, juga bentuk-bentuk kreasi Doodle Art serta perbedaannya dengan Grafiti, Mural atau Zentangle. Selain langkah-langkah membuat Doodle, diulas pula mengenai potensi dari ragam seni ini di masa mendatang, khususnya dalam bentuk-bentuk kreasi yang lintas bidang, serta bagaimana komunitas Doodle Art ini dapat berkembang dengan cukup masif di Indonesia.

Apakah Doodle Art semata-mata hanya meluapkan kreasinya pada coretan yang bersifat personal di dalam buku, ataukah meluas di dinding-dinding ruang publik? Bagaimana hubungannya dengan pegiat seni mural atau street art lainnya? Silakan mengikuti Kelas Kreatif Bentara Budaya Bali tentang Doodle Art Sabtu (8/12) esok. (rls/bpn/tim)

 

Advertisement
Loading...