Rabu, Oktober 21, 2020
Beranda Bali Buleleng Mengintip Cara Budidaya Kele-Kele di Desa Tejakula, Dengan Keuntungan Capai Jutaan Rupiah

Mengintip Cara Budidaya Kele-Kele di Desa Tejakula, Dengan Keuntungan Capai Jutaan Rupiah

BULELENG, balipuspanews.com – Kele-kele atau trigona mungkin tidak asing lagi bagi sebagian orang yang suka madu kele, sebagai penghasil madu yang mengandung banyak propolis cara membudidayakan kele juga terbilang cukup mudah.

Pasalnya dengan lahan yang tidak begitu luas para peternak sudah bisa membuatkan sarang atau tempat hidup kele, selain itu sarangnya juga bisa dipakai hiasan taman halaman rumah atau pekarangan.

Salah seorang peternak kele-kele yang sudah merintis sejak tahun 2001 bernama Made Gunawan (35) asal Banjar Dinas Kajanan, Desa/Kecamatan Tejakula menceritakan pengembangan kele dilakukan berawal dari dirinya yang hanya sekedar penasaran ketika menyabit rumput serta menemukan sarang kele pada sebuah batang kayu yang dibelah.

Kemudian muncul ide untuk mencoba peluang berternak kele-kele yang saat itu sudah mulai susah dicari madunya yang memang dipanen langsung dari sarangnya.

“Lama lama kok saya mulai tertarik untuk membudidayakan kele-kele akhirnya saya coba searching video tentang cara berternak kele-kele sampai tonton berkali kali melalui YouTube, agar tau caranya,” singkatnya, Minggu (4/10/2020).

Setelah merintis dari tahun 2001 saat ini dirinya sudah memiliki sekitar 15 sarang yang bisa menghasilkan madu sekitar 10 botol dengan ukuran botol 600 mililiter sekali panen, harga perbotolnya mencapai 350 ribu.

Selain madu kele asli dirinya juga sering menjual sarang berserta koloninya dengan variasi harga tergantung jenis kele yang diinginkan pelanggannya. Penjualan selama ini baik sarang maupun madu yang dihasilkan dari peternakannya sudah menjangkau beberapa tempat di Bali seperti Nusa Dua, Denpasar, Singaraja, Petang, dan Klungkung.

Tak hanya itu dirinya yang awalnya hanya bermodalkan mencari bibit keliling desa yang kebetulan dekat dengan wilayah perbukitan dan hutan untuk kumpulkan lalu diternak, kini bisa meraup keuntungan mencapai 10 juta untuk penjualan sarang dan madu kele kele.

Sementara untuk panen madu Kele dirinya mengatakan paling banyak saat ini panen dalam sebulan bisa mencapai 10 botol dengan ukuran botol 600 Ml dan harga perbotol capai angka 350 ribu dengan jumlah sebulan panen dua kali.

“Untuk sarang dan koloninya harganya berbeda Kele Itama harganya berkisar 1 juta, Kele jenis Biroy 100 ribu, dan Kele jenis levicev 80 ribu, yang membedakan harga dari masing-masing yaitu ukuran bodi, ukuran telur, dan kecepatan mehasilkan madu. Saat ini karena sudah lama bergelut jadi ada sisa keuntungan untuk kadang ambil bibit jenis Kele Biroy di Sulawesi Selatan dan Itama di Kalimantan, kalau levicev lokal,” paparnya.

Disamping itu ia menjelaskan tentang proses budidaya yang dilakukannya secara bertahap terhadap satu sarang yang sudah penuh koloninya. Kemudian bisa dipecah lagi menjadi dua atau tiga sarang akan tetapi ia menekankan dalam sarang yang dipecah harus ada telur dari Ratu Kele yang ciri telurnya memiliki ukuran lebih besar dari telur lainnya.

Hal ini akan membuat koloni pekerja mencari sarang yang baru disebabkan telur Ratu yang ada didalam sarang baru.

Selanjutnya sarang yang baru ditempatkan pada posisi sarang sebelumnya ini berfungsi agar suasana lingkungan sekaligus suhu tetap sama seperti disarang lama.

Akan tetapi untuk sementara sarang lama harus ditempatkan dengan jarak yang agak jauh dari tempat sebelumnya dan didalam sarang lama masih harus ada telur Ratu agar koloni tidak semuanya berpindah sarang.

“Kalau selama ini dalam melakukan budidaya kele saya rutin selama dua kali dalam seminggu mengontrol agar tidak ada hama seperti cicak, semut dan lainnya yang menggangu sarang kele, sekaligus bisa juga ditambahkan di tiang penyangga sarang dengan diolesi oli bekas, coret kapur ajaib selama tidak menyentuh sarang agar terlindung dari hama,” imbuhnya.

Tak hanya itu ia menerangkan kalau Kele-kele bisa bertahan selama setahun lebih, hal ini juga tergantung dari Ratu yang dilakukan pergantian setiap lima bulan dari sarang, sekaligus tempat budidaya yang wajib berisi banyak tanaman bunga agar madu yang dihasilkan bisa lebih banyak.

Selain itu lingkungan yang baik untuk berternak kele-kele harus ada beberapa hal diperhatikan jenis tanaman bunga, sinar matahari tidak langsung, dan saat musim hujan harus dilindungi diatas sarang menggunakan plastik atau bahan anti air agar sarang tidak basah serta koloni tidak pergi dari sarangnya.

“Jika musim penghujan selain harus dilindungi agar sarang tidak basah dan lembab, musim ini juga Kele-kele sudah tak leluasa pergi jauh mencari makan,” tutupnya.

Penulis : Nyoman Darma

Editor : Oka Suryawan

- Advertisement -

Kakek Gantung Diri di Gubuk Ditemukan Oleh Cucunya

ABIANSEMAL, balipuspanews.com -Seorang cucu, Putu Darmiati, 23, tidak menyangka menemukan kakeknya, Ketut Sumerta, 65, tewas gantung diri di gubuk sawah di Pondok Subak Munduk...

Kasus Dugaan Pemerkosaan Pelajar, Diduga Terjadi di Lima Tempat Berbeda Oleh 10 Pelaku

BULELENG, balipuspanews.com - Penyelidikan terhadap kasus dugaan pemerkosaan terhadap anak dibawah umur terus berlanjut. Kasus yang korbannya dibawah umur ini dari hasil penyelidikan sementara...
Member of