Pusat penangkaran terbesar jalak bali adalah di Taman Nasional Bali Barat (TNBB) Gilimanuk, Kabupaten Jembrana
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Jembrana, balipuspanews- Jalak bali, tercatat sebagai salah satu jenis satwa yang dilindungi. Sejalan dengan itu, keberadaannya kini hampir punah.

Di beberapa titik belakangan dilakukan penangkaran untuk menjaga habitat burung dengan suara merdu tersebut. Salah satu habitat dan pusat penangkaran terbesar jalak bali adalah di Taman Nasional Bali Barat (TNBB) Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali.

Kepala TNBB Agus Ngurah Khrisna menjelaskan, taman nasional yang “dikomandaninya” itu memiliki areal seluas 19.026 hektare. TNBB terdiri atas beberapa bagian seperti terumbu karang, hutan mangrove, hutan dataran rendah, hutan dataran tinggi atau pegunungan. “Itu untuk ekosistemnya,” ucap Agus di Jembrana, Kamis (1/2).

Sementara untuk jalak bali yang berada di alam liar jumlahnya mencapai 109 ekor. “Untuk yang di penangkaran sebanyak 317 ekor,” ujarnya.

Di sisi lain, Kepala Seksi Pakan dan Pendataan TNBB Putu Yasa menjelaskan, salah satu kesulitan melakukan penangkaran dan pengembangbiakan jalak bali adalah masalah kandang. Untuk kandang, perlu dibuat yang baik dan cocok bagi burung yang dilindungi tersebut.

Dikatakan, sebelum berperilaku aktif, jalak bali harus berada di penangkaran terlebih dahulu. “Semua itu harus disiapkan sejak ini. Itu yang sangat kurang. Kalau untuk pakan tidak ada masalah,” ujar dia, memaparkan.

Kendala lain, lanjut Putu Yasa, sehubungan burung-burung tersebut dikembangbiakkan di penangkaran, maka untuk menumbuhkan sifat liarnya agar sulit. Jika burung dari penangkaran dilepas ke alam liar, maka mereka akan hidup bergerombol sama seperti ketika mereka masih berada di penangkaran.

Ia menjelaskan, membangkitkan sifat liar jalak bali yang agak sulit, sebab membutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk melepaskannya dari fase berkelompok.

“Rasa ingin tahu jalak bali begitu tinggi, sehingga mereka tidak terkonsentrasi di satu titik saja,” kata Putu Yasa dengan menambahkan, untuk yang dilepasliarkan sudah banyak.

Saat musim kemarau di Pulau Menjangan, sumber airnya kering. Kalau sudah begitu, jalak bali yang “bermukim” di pulau mungil itu akan menyeberang ke TNBB di Teluk Berumbun.

“Kami melakukan pembinaan habitat. Ada bak khusus yang kami isi air untuk memenuhi kebutuhan satwa di Menjangan, sehingga burung tidak bermigrasi di musim kemarau,” katanya, memaparkan.

Kepala TNBB Krishna menambahkan, pihaknya selalu menyiapkan pakan yang berlebih untuk mengantisipasi adanya burung yang bermigrasi.

“Pakan alami mereka juga terbatas di sana. Jumlah mereka sekitar 50-60 ekor. Kawasan Pulau Menjangan seluar 172 hektare dengan ketersediaan pakan yang kurang. Kami juga menyiapkan pakan untuk mereka,” ujarnya.

Di sisi lain, sejumlah hewan liar masih mudah ditemui di TNBB. Sejak pagi hari, wartawan yang menjelajah masuk ke dalam hutan mendapati sejumlah hewan liar berkeliaran di TNBB.

Melintasi jalan bebatuan, sejumlah kera bergerombol di pinggir-pinggir jalan, seakan tahu ada tamu yang berkunjung ke wilayahnya. Mereka bergerombol dengan harapan mendapat makanan.

Di tempat lain, babi hutan melintas begitu saja meski di dekat manusia. Hewan itu terus mengendus-endus tanah dengan harapan mendapat makanan untuk mengisi perut di sore hari menjelang malam. (Salsa)

Tinggalkan Komentar...