BULELENG, balipuspanews.com – Suara riuh panggung ajang Buleleng Festival (Bulfest) menjadi latar dari kebahagiaan Prof. Dr. Ni Luh Sustiawati, M.Pd. Akademisi sekaligus seniman tari asal Desa Kedis ini tampak begitu energik saat berbagi cerita usai tampil membawakan Tari Wiranjaya, Selasa (18/8/2026).
Bagi sosok berusia 67 tahun tersebut, panggung malam itu bukan sekadar unjuk kebolehan, melainkan sebuah penghormatan mendalam bagi warisan darah seni keluarganya. Tari Wiranjaya memiliki tempat tersendiri di hati Guru Besar ISI Bali ini. Tarian legendaris tersebut merupakan karya dari kakeknya, maestro tari I Ketut Merdana, yang kemudian diteruskan oleh sang ayah, I Putu Sumiasa.
“Saya menarikan Tari Wiranjaya sejak masih SD. Rasa bahagianya luar biasa bisa membawakan tarian ciptaan kakek dan ayah saya. Kalau disuruh menari seharian, tidak akan capek,” ungkap anak sulung dari lima bersaudara tersebut.
Sebagai praktisi yang tumbuh di lingkungan seniman hingga menjadi akademisi di bidang Manajemen Pendidikan Seni, Prof. Sustiawati menyoroti pentingnya menjaga pakem (aturan baku) karya-karya maestro terdahulu, seperti I Ketut Merdana dan I Gede Manik. Ia tak menampik adanya pergeseran pakem dalam beberapa pementasan seni saat ini, salah satunya pada penggunaan kostum Tari Wiranjaya.
Ia juga menjelaskan konsep cerita Wiranjaya berakar dari kisah pewayangan, mengisahkan tokoh Nakula dan Sahadewa yang belajar memanah kepada Brahamana Tambapetra. Karena konsepnya adalah pewayangan, penggunaan busana asli seperti gelungan (mahkota tari) idealnya tetap dipertahankan.
Jika terjadi keterbatasan, penggunaan petitis atau kercut masih diperbolehkan, namun tidak sampai menghilangkan identitas gelungan Nakula-Sahadewa itu sendiri. Apalagi perkembangan seni tari di Buleleng diakuinya terus menunjukkan geliat positif melalui ruang ekspresi dan panggung festival. Namun, ia menekankan agar para pembina tari, baik di jalur formal, nonformal, maupun sanggar, tidak melupakan akar tradisi.
Prof. Sustiawati bahkan menyarankan untuk tidak sungkan berdiskusi langsung dengan para keturunan maestro tari. Hal ini penting agar proses pewarisan seni tidak mengalami stagnasi maupun distorsi nilai sejarah.
Meskipun aktivitas utamanya kini didedikasikan sebagai akademisi hingga masa pensiunnya nanti, Prof. Sustiawati tetap rutin menyempatkan diri pulang ke kampung halamannya di Desa Kedis. Di sana, ia terus melatih anak-anak dan warga setempat, memastikan api seni tari Buleleng tetap menyala melintasi generasi.
Penulis : Nyoman Darma
Editor : Oka Suryawan



