Menkes Pastikan Kesiapan Rumah Sakit Hadapi Lonjakan Dampak Omicron

Menteri Kesehatan Budi Sadikin Gunawan dalam rapat kerja dengan Komite III DPD RI di Gedung DPD, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (24/1/2022). (Foto: DPD RI)
Menteri Kesehatan Budi Sadikin Gunawan dalam rapat kerja dengan Komite III DPD RI di Gedung DPD, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (24/1/2022). (Foto: DPD RI)

JAKARTA, balipuspanews.com – Menteri Kesehatan Budi Sadikin Gunawan mengungkapkan saat ini kesiapan rumah sakit untuk pasien Covid-19 sudah mulai disiapkan untuk menghadapi lonjakan. Menurutnya, saat ini masih terdapat 80 ribu kamar yang bisa dinaikkan ke jumlah 120 ribu kamar untuk penanganan kasus Covid-19.

Penegasan disampaikan Menkes Budi Gunadi Sadikin dalam rapat kerja dengan Komite III DPD RI di Gedung DPD, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (24/1/2022). Rapat membahas penanganan pandemi Covid-19 dan juga program Kementerian Kesehatan di tahun 2022.

Budi juga menjelaskan bahwa penanganan kasus Omicron berbeda dengan kasus varian Delta. Menurutnya, pasien varian Omicron sebagian besar tidak memiliki gejala yang berat. Sehingga tidak perlu dirawat di rumah sakit kecuali yang benar-benar bergejala berat.

“Yang tanpa gejala dan ringan, kita mengarahkan isolasi mandiri dan kita bantu dengan telemedicine. Itu pilot projectnya kami coba di Jakarta, dan hasilnya baik. Sehingga rumah sakit kita bisa dikonsentrasikan dari sedang dan berat,” jelas Budi.

Baca Juga :  HUT ke-77 PGRI Dibalut Senam 'Nangun Sat Kerthi Loka Bali'

Dalam rapat kerja yang berkembang, Komite III DPD RI meminta Kementerian Kesehatan dapat mengambil langkah antisipasi agar gelombang kedua kasus Covid-19 varian Delta di tahun lalu yang menyebabkan banyak masyarakat meninggal dunia tidak terjadi lagi.

“Dari Satgas Penanganan Covid-19, kasus aktif pasien positif bertambah terus menerus. Pemerintah juga memperkirakan punyak Omicron di bulan Februari – Maret, disinyalir akan menjadi puncak dari Omicron,” ucap Ketua Komite III DPD RI Sylviana Murni.

Sylviana menilai bahwa tingkat pelayanan rumah sakit di Indonesia masih relatif terbatas. Hal ini terlihat dari belum meratanya fasilitas kesehatan beserta ketidakmerataan distribusi tenaga kesehatan di daerah-daerah.

“Pasien yang menderita penyakit berat diminta menanti pelayanan hingga satu bulan lamanya di rumah. Padahal seharusnya, pasien tersebut harus segara mendapatkan pertolongan,” jelas Senator dari DKI Jakarta ini.

Baca Juga :  Sistem Pangan Berikan Makanan Bergizi Untuk Semua Orang

Beberapa Anggota Komite III DPD RI juga menyoroti mengenai permasalahan tidak meratanya fasilitas kesehatan dan tidak adanya tenaga kesehatan di daerah mereka.

Salah satunya Senator dari Papua Barat Yance Samonsabra yang mengatakan bahwa di provinsinya sangat sulit untuk mencari seorang dokter. Banyak dokter dari provinsi lain yang ditugaskan ke Papua Barat, tetapi tidak bertahan lama karena mereka kembali lagi ke daerahnya.

“Sehingga ada usulan dari daerah kalau bisa ada pengecualian atau afirmasi supaya anak asli Papua diterima dan dididik (sebagai dokter) dan akan tertugas di kampungnya kembali,” ucapnya.

Senator dari Jawa Tengah Bambang Sutrisno meminta agar Menteri Kesehatan dapat memperhatikan kesiapan rumah sakit di berbagai daerah dalam menghadapi lonjakan kasus Covid-19. Belajar dari pengalaman yang lalu, banyak masyarakat yang terpapar Covid-19 tidak dapat memperoleh pelayanan kesehatan dan akhirnya meninggal akibat penuhnya rumah sakit.

Baca Juga :  Rekonstruksi Pembunuhan Anggota Baharkam Polri di Mapolresta Denpasar

“Yang penuh itu rumah sakit pemerintah, sedangkan swasta itu kosong. Apakah tidak ada kerja sama dengan pihak swasta. Ini perlu dibuka, jangan sampai yang berobat di swasta itu sangat mahal dan tidak dicover. Harapannya semua yang terkena Omicron dapat tertangani semua,” tegasnya.

Senator dari Lampung Jihan Nurlela, berpesan, Kementerian Kesehatan harus dapat menyiapkan kebutuhan pelayanan medis bagi pasien yang terpapar Covid-19 di rumah sakit. Seperti oksigen, ketersediaan kamar, ataupun obat-obatan.

“Berharap agar gelombang kedua Delta kemarin menjadi pengalaman agar semua pihak harus siap. Penting penyiapan mitigasi gelombang Omicron yang akan melonjak di Maret. Jangan sampai seperti gelombang kedua Delta,” ucap Jihan yang berprofesi sebagai dokter ini.

Penulis : Hardianto

Editor : Oka Suryawan