Menkes Syaratkan Pasien Omicron Isoman Harus di Bawah 45 Tahun

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin. (Foto: balipuspanews.com)
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin. (Foto: balipuspanews.com)

JAKARTA, balipuspanews.com – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menerbitkan Surat Edaran Nomor HK.02.01/MENKES/18/2022 tentang Pencegahan dan Pengendalian Kasus Covid-19 varian Omicron (B.1.1.529) pada 17 Januari 2022.

Aturan terbaru Kementerian Kesehatan itu membolehkan pasien Omicron, tanpa gejala dan gejala ringan melakukan isolasi mandiri jika memenuhi syarat klinis dan syarat rumah.

“Adapun syarat klinis dan perilaku yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut: 1. Berusia di bawah 45 tahun; 2. Tidak memiliki komorbid; 3. Dapat mengakses telemedisin atau layanan kesehatan lainnya,” bunyi salah satu Surat Edaran yang dirilis Jumat (21/1/2022).

SE yang ditetapkan pada tanggal 17 Januari 2022 tersebut antara lain memuat ketentuan mengenai isolasi bagi pasien Covid-19 termasuk konfirmasi kasus Omicron.

Baca Juga :  Rekonstruksi Pembunuhan Anggota Baharkam Polri di Mapolresta Denpasar

Ditegaskan Budi dalam SE tersebut, pasien kasus probable dan konfirmasi varian Omicron baik yang bergejala (simptomatik) maupun tidak bergejala (asimptomatik) harus melakukan isolasi.

“Gejala klinis untuk kasus konfirmasi Covid-19 varian Omicron pada prinsipnya sama dengan gejala klinis Covid-19 varian lainnya,” disebutkan dalam SE.

Selain itu, pada ketentuan syarat klinis lainnya juga disebutkan pasien Omicron harus berkomitmen untuk tetap diisolasi sebelum diizinkan keluar.

Sedangkan syarat rumah dan peralatan pendukung lainnya yaitu:

1. Dapat tinggal di kamar terpisah, lebih baik lagi jika lantai terpisah; 2. Ada kamar mandi di dalam rumah terpisah dengan penghuni rumah lainnya; dan 3. Dapat mengakses pulse oksimeter.

Baca Juga :  Ditinggal Menginap, Rumah Hasil Bedah Rumah Terbakar

“Jika pasien tidak memenuhi syarat klinis dan syarat rumah, maka pasien harus melakukan isolasi di fasilitas isolasi terpusat. Selama isolasi, pasien harus dalam pengawasan puskesmas atau satgas setempat,” ujar Budi dalam SE-nya.

Isolasi terpusat dilakukan pada fasilitas publik yang dipersiapkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, atau swasta yang dikoordinasikan oleh puskesmas dan dinas kesehatan.

Surat edaran tersebut juag memuat ketentuan tempat isolasi yang tertuang dalam SE. Yaitu; 1. Kasus konfirmasi Covid-19 dengan gejala berat-kritis dirawat di rumah sakit (RS) penyelenggara pelayanan Covid-19.

2. Kasus konfirmasi Covid-19 dengan gejala sedang atau gejala ringan disertai komorbid yang tidak terkontrol dapat dirawat di RS lapangan/RS darurat atau RS penyelenggara pelayanan Covid-19.

Baca Juga :  Akhir Desember, Tiga Kamera ETLE di Badung Selesai dan Siap Beroperasi

3. Kasus konfirmasi Covid-19 tanpa gejala (asimptomatik) dan gejala ringan dapat melakukan isolasi mandiri jika memenuhi syarat klinis dan syarat rumah.

Penulis : Hardianto

Editor : Oka Suryawan