Menteri Bintang dan Tim SAPA 129, Kunjungi Korban Kekerasan Seksual di Hutan Kota Jakarta Utara

Menteri PPPA Bintang Puspayoga bersama TIM Layanan SAPA129 mengunjungi remaja putri berusia 13 tahun yang menjadi korban kekerasan seksual di Hutan Kota  Jakarta Utara.
Menteri PPPA Bintang Puspayoga bersama TIM Layanan SAPA129 mengunjungi remaja putri berusia 13 tahun yang menjadi korban kekerasan seksual di Hutan Kota  Jakarta Utara. (dok. Humas KemenPPPA)

JAKARTA, balipuspanews.com – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga mengunjungi remaja putri berusia 13 tahun yang menjadi korban kekerasan seksual di Hutan Kota  Jakarta Utara.  Kehadiran Menteri PPPA dan tim layanan dari SAPA129 untuk mengetahui kondisi terakhir korban dan memastikan perkembangan pendampingan terhadap korban.

“Kami datang ke rumah keluarga korban yang paling utama ingin melihat kondisi korban dan sejauh mana pendampingan yang telah diberikan untuk korban kekerasan seksual dari teman sebayanya. Setelah berbincang dengan korban dan kakaknya, kami ikut sedih dengan kondisi korban yang tentu saja masih sangat trauma dengan kejadian itu. Dukungan kami berikan kepada korban agar mampu pulih dari trauma dan bisa melanjutkan sekolah kembali,” ucap Menteri Bintang, dalam keterangannya, Senin (26/9/2022).

Baca Juga :  Siapkan Perempuan Hadapi Tantangan tahun 2023, XL Axiata Gelar FWP

“Dari keterangan psikolog dan konselor yang mendampingi korban, saat ini korban diberikan kekuatan dan dukungan untuk kembali bersekolah karena sebentar lagi akan menghadapi ujian sekolah. Nanti pendampingan khusus untuk memulihkan kesehatan jiwa korban akan kembali dilanjutkan setelah ujian sekolah selesai,” tambahnya.

Menteri PPPA juga memberikan apresiasi untuk kakak korban yang sudah memberanikan diri melapor ke pihak berwajib agar adiknya bisa tertangani dan pelaku ditangkap.

“Kami salut terhadap keberanian kakak korban yang tidak menunggu lama, segera melaporkan ke pihak berwajib setelah mendapat laporan kejadian tersebut dari teman korban. Keberanian keluarga korban ini perlu dicontoh oleh masyarakat luas. Setiap masyarakat yang menjadi korban kekerasan seksual dan melihat dan mendapatkan laporan kasus, harus segera bertindak untuk melapor agar kasusnya bisa segera tertangani. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) juga punya contact center khusus laporan pengaduan kekerasan, yaitu Layanan Pengaduan SAPA129 dengan menghubungi call centre 129 atau pesan Whatsapp di 08111-129-129,” tegas Menteri PPPA.

Baca Juga :  Tekanan Global Tak akan Banyak Pengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Metro Jakarta Utara AKP Marotul Aeni, para pelaku adalah anak putus sekolah berusia 11 hingga 13 tahun dan pihaknya memberlakukan UU Sistim Peradilan Pidana Anak (UU SPPA) mengingat pelaku masih berusia anak.

“Kasus ini sudah dilakukan pemberkasan dan sudah kami kirimkan ke Kejaksaan. Kini kami menunggu hasil pemrosesan di Kejaksaan. Para pelaku kami titipkan sementara di Sentra Handayani. Untuk pendampingan terhadap korban juga sudah dilakukan oleh Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) DKI Jakarta,” ucap Aeni.

Dari hasil pertemuan, diperoleh keterangan bahwa para pelaku tidak memiliki gadget tetapi sering mengunjungi warung internet (warnet) untuk mengakses situs-situs yang hanya ditujukan untuk orang dewasa.

Baca Juga :  Menteri PPPA Apresiasi Kota Pariaman Atas Komitmen Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

Kepala Dinas Pemberdayaan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (P2AdanPP) DKI Jakarta, Tuty Kusumawati yang turut hadir menyatakan akan segera berkoordinasi dalam hal edukasi kepada pengurus warnet.

Pada kesempatan ini, Menteri Bintang juga menyerahkan dukungan pemenuhan kebutuhan spesifik bagi korban anak antara lain yaitu paket seragam, perlengkapan sekolah dan uang tunai. Dalam kasus ini, Kemen PPPA melalui Tim SAPA129 terus berkoordinasi dengan UPT P2TP2A DKI Jakarta untuk memantau perkembangan kasus, memastikan pendampingan dan pemulihan korban, serta mengawal proses hukumnya.

Penulis/editor : Ivan Iskandaria.