Beranda Lentera Jiwa Menyenangkan! Seni Visual Sebagai Media Terapi Kasus Trauma

Menyenangkan! Seni Visual Sebagai Media Terapi Kasus Trauma

LenteraJiwa, balipuspanews. com – Apa yang pertama terlintas di pikiran anda ketika mendengar kata “seni”? Bisa jadi langsung teringat pada lukisan seniman terkenal, rambut gondrong, tato rumit di sekujur tubuh, alunan musik merdu memanjakan telinga, dan banyak lagi.

Penulis : Agung Sri Wiraswati

Ternyata seni, khususnya seni berbentuk visual tidak hanya terbatas pada ekspresi oleh seniman yang dituangkan dalam hasil karya yang mempesona dalam bentuk lukisan atau pahatan, namun dapat juga digunakan sebagai media terapi di ranah psikologi.

Tidak kalah dari teknik lainnya, justru terapi bermodalkan media seni visual memiliki kelebihannya tersendiri.

Sebenarnya penggunaan seni sebagai media terapi sudah mulai berkembang sejak tahun 1930-an di mancanegara. Penggunaannya cukup sering tampil pada penanganan kasus trauma. Seseorang yang pernah mengalami peristiwa traumatik seringkali merasa terguncang jiwanya bahkan jauh setelah peristiwa buruk berlalu.

Hal ini terjadi karena pengalaman traumatik sangat berbeda dari pengalaman sehari-hari, begitu buruk dan menyakitkan, terkadang melewati batas kemampuan seseorang untuk menahannya, sehingga merasuk dalam ingatan dan sulit dilupakan begitu saja.

Dalam proses terapi untuk membantu seseorang pulih dari masalah akibat pengalaman traumatik, dibutuhkan upaya yang luar biasa hebat. Seseorang yang menjalani terapi akan perlahan dihadapkan pada ingatan tentang pengalaman buruknya.

Sebagian mampu, namun beberapa menghadapi kesulitan.
Seni visual masuk dalam proses terapi untuk membantu mendorong proses pengeluaran beban psikologis dari dalam diri.

Mungkin menjadi pertanyaan tentang apa sebabnya sampai harus dibantu dengan proses membuat karya seni visual? Pada kasus trauma, seringkali seseorang sangat sulit untuk menceritakan rincian pengalaman traumatiknya. Ketika bercerita, seseorang menjadi mengingat kembali pengalamannya, dan merasakan seolah pengalaman itu terulang kembali. Penghindaran atau rasa ingin cepat-cepat kabur dari sesi terapi sering terjadi karena ketidaksanggupan seseorang mengendalikan dirinya.

Rasa ngeri, takut, cemas bercampur aduk sehingga menghambat proses terapi.
Saat terapi dengan media seni visual sedang berlangsung, seseorang diminta untuk menuangkan pikiran, ingatan, emosi, dan apapun yang sedang dirasakannya ke dalam sebuah media visual (umumnya melibatkan perlengkapan seperti kertas atau kain sebagai alas, cat, pensil warna, krayon sebagai alat gambar).

Pada saat seseorang berproses membuat sebuah karya seni dengan penuh kebebasan berekspresi dan juga bebas dari penilaian bagus atau jeleknya karya itu, maka pada saat itulah ia sedang merefleksikan dirinya.

Seseorang tidak perlu tertekan untuk tampil sempurna dengan memiliki jiwa seni yang tinggi atau dapat membuat bentuk-bentuk indah. Tugas utama dalam kegiatan ini adalah menuangkan pengalaman buruk, ingatan mengerikan, dan perasaan negatifnya dalam bentuk lebih konkret yang tertuang pada kertas, yang dapat dilihat dan dibahas bersama dengan terapis nantinya.

Seseorang juga berproses untuk melihat pengalamannya yang selama ini ditakuti menjadi sesuatu yang lebih ramah dan tidak mengancam. Seseorang bisa menuangkan isi pikiran dan hatinya dengan pilihan bentuk dan warna sesuai kemauannya yang secara simbolis menganggambarkan apa yang berkecamuk dalam dirinya.

Keseruan menggunakan seni visual dalam proses terapi sesungguhkan merupakan senjata ampuh ketika terapis berhadapan dengan anak-anak, namun seiring berjalannya waktu, ternyata bukan hanya anak yang menikmati seni visual sebagai media terapi, tetapi orang dewasa bahkan lansia juga merasakan manfaatnya.

Karakter terapi seni visual menyediakan wadah ekspresi yang bebas, tanpa penghakiman, dapat melibatkan warna-warna ceria, dan mendorong keaktifan koordinasi mata dan gerak anggota badan lainnya menjadikan proses terapi lebih dinamis dan tidak melulu diisi dengan kegiatan berbincang.

Oleh sebab itulah, terapi berbasis seni visual cenderung lebih disukai, sehingga membantu kelancaran proses terapi secara keseluruhan.

Tentu terdapat pertimbangan ketika memilih terapi berbasis seni untuk menangani kasus trauma. Terapi seni visual menyediakan wadah untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, pengalaman, tekanan dalam diri, maupun emosi yang sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata.

Segala hal tersebut dapat secara simbolis diekspresikan keluar diri, baik dalam variasi goresan, tebal dan tipisnya tekanan garis, minim maupun rumitnya gambaran, bentuk-bentuk abstrak, hingga gradasi pemilihan warna.

Seni visual sebagai media terapi ini sangat membantu terapis maupun klien untuk beranjak maju semakin mendekati tujuan terapi dengan kondisi psikologis yang lebih nyaman.

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Harap Bisa Atasi Permasalahan Air, Gubernur Prioritaskan Pembangunan Bendungan Tamblang

BULELENG, balipuspanews.com - Pembangunan Bendungan Tamblang sudah diresmikan, pada Rabu (12/8/2020), oleh Gubernur Bali I Wayan Koster. Pembangunan Bendungan ini diharapkan bisa mengatasi permasalahan...

Resmi Ditahan, Jrx : Semoga Tidak Ada Lagi Ibu-Ibu Menjadi Korban Rapid Test

DENPASAR, balipuspanews.com - Jrx Superman Is Dead (SID) kembali diperiksa oleh Penyidik Direktorat Kriminal Khusus Polda Bali, pada Rabu, 12 Agustus 2020.Jrx SID diperiksa...

Jerinx SID Resmi Tersangka, Langsung Dijebloskan ke Rutan Polda Bali 

DENPASAR, balipuspanews.com - Setelah dipanggil dan diperiksa sebagai saksi terlapor terkait kasus dugaan ujaran kebencian dan pencemaran nama baik oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI)...

Budaya Bali, Kunci Pengembangan Pariwisata Medis

DENPASAR, balipuspanews.com - Wacana pariwisata medis bergulir sejak sepuluh tahun lalu di Bali dan berkembang secara alamiah. Kini dengan hadirnya Indonesia Medical Tourism Board...

Recent Comments

Facebook Comments