Penyebaran virus corona atau covid-19 kini tengah mewabah hampir seluruh dunia
Penyebaran virus corona atau covid-19 kini tengah mewabah hampir seluruh dunia

Penulis: Ki Tambet/ Ngurah Arthadana

OPINI ANDA, balipuspanews.com – Penyebaran virus corona atau covid-19 kini tengah mewabah hampir seluruh dunia. Termasuk pula hingga di Bali. Bahkan ada kecenderungan angka pasien akibat virus corona di Bali tiap harinya makin meningkat.

Mengutip dari infocorona.baliprov.go.id hingga per hari Selasa (14/4), data sebaran Covid-19 di Bali sebagai berikut. Kabupaten Jembrana dan Tabanan dengan masing-masing pasien positif 6 orang, dalam perawatan 6 orang dan yang sembuh nihil. Berikutnya Badung dengan 7 pasien positif, 6 orang dalam perawatan dan satu orang sembuh.

Denpasar mencatat jumlah pasien positif tertinggi di Bali. Yakni dengan 26 orang pasien positif, 18 orang dalam perawatan dan 8 orang dinyatakan sembuh.

Berikutnya Gianyar mencatat 6 orang pasien positif, 4 orang dalam perawatan dan 2 orang sembuh. Bangli ada 10 pasien positif, 9 orang dalam perawatan dan satu orang sembuh.

Klungkung dan Karangasem memiliki jumlah yang sama. Yakni masing-masingnya dengan 7 pasien positif, 6 dalam perawatan dan satu orang sembuh.

Sementara Buleleng memiliki 9 pasien positif, 6 orang dalam perawatan dan 3 orang sembuh. Selain angka-angka dari masing-masing kabupaten/ kota tadi, Bali juga mencatat pasien yang merupakan warga negara asing. Adapun rinciannya 7 orang positif, 1 orang dalam perawatan dan telah sembuh 4 orang.

Penting digarisbawahi, bahwa ternyata tingkat pemahaman masyarakat terhadap virus corona tidak sama. Terlebih lagi virus ini datang tiba-tiba, sehingga semua pihak dipaksa “menyambutnya” dengan apa adanya hingga sampai terkesan minimnya sosialisasi dari pihak instansi terkait. Ini kemudian menjadikan virus corona sangat berpeluang melahirkan dampak-dampak baru. Terutama dampak ekonomi dan sosial.

Dampak secara ekonomi dari mewabahnya virus corona yang paling potensial adalah kemungkinan akan terjadinya krisis pangan. Mengingat sejak beberapa minggu terakhir aktivitas perekonomian terkesan lumpuh. Krisis pangan ini juga berpotensi karena banyak pekerja dirumahkan dan berbagai aktivitas wajib dilakukan dari rumah.

Yang juga tidak kalah mengkhawatirkan dari penyebaran virus corona adalah dampak sosialnya. Dampak sosial yang dimaksudkan tiada lain dampak dari tingkat pemahaman masyarakat terhadap virus corona tidak sama. Bahkan dampak itu sudah terjadi, seperti halnya peristiwa penolakan PMI di Karangasem, baca juga https://www.balipuspanews.com/penolakan-karantina-terjadi-warga-hadang-bus-pekerja-migran-di-candidasa-karangasem.html. Potensi serupa juga sangat mungkin terjadi, terutama ketika masyarakatnya “mamegeng” dan memandang PMI tidak lagi sebagai pahlawan devisa, tetapi menganggap pekerja perantau yang pulang membawa virus.

Terhadap dua contoh tadi, tentu ada PR besar lagi yang harus dikerjakan pihak pemerintah. Yakni bagaimana menjawab persoalan ketersediaan pangan, mengingat kapan keadaan kembali pulih belum bisa dipastikan. Termasuk PR mengenai sangat mungkinnya sebagian krama Bali telah menjerit karena kehabisan logistik. Apakah pemerintah kabupaten/ kota atau provinsi sudah mempersiapkan logistik tersebut, kapan disalurkan dan siapa-siapa saja yang layak nanti menerimanya.

Kemudian terkait dengan dampak sosial seperti peristiwa penolakan PMI yang terjadi di Karangasem kemarin, pemerintah tentu wajib “berkeringat” lagi untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat secara lebih mendetail tentang virus corona dan mengapa PMI dipulangkan. Sehingga pada akhirnya semua pihak berlapang dada menghadapi cobaan berat dari keberadaan Jro Maya/ virus corona ini. Setidaknya juga dibalik ritual beryadnya di Bali, virus corona seharusnya mampu memperkokoh semangat menyama braya dan menumbuh suburkan semangat berbagi. Bukankah berbagi juga cara lain dari beryadnya?

Penulis: seorang juru warta, tinggal di Banjar Kamasan, Desa Dajan Peken, Tabanan