Sabtu, April 13, 2024
BerandaOpini AndaMewaspadai "Tsunami" Covid di Bali Saat Arus Balik

Mewaspadai “Tsunami” Covid di Bali Saat Arus Balik

Oleh : Ngurah Arthadana/Ki Tambet

OPINI ANDA, balipuspanews.com – Pasca hari raya Idul Fitri 1442 Hijriah, arus balik akan segera berlangsung. Termasuk arus balik ke Pulau Dewata.

Terkait dengan arus balik ke Bali, adalah sebuah kejadian umum jika yang mudik kemudian datang membawa teman atau saudaranya. Tujuannya untuk mengadu nasib di Bali yang umumnya mengambil peluang pada sektor non formal. Seperti menjadi buruh bangunan, berdagang dan lainnya, termasuk pula menjadi pemulung.

Bertambahnya dari tahun ke tahun pendatang ke Bali tentu sangat beralasan. Pada satu sisi, sebagian masyarakat Bali cenderung semakin konsumtif dan meninggalkan peluang ekonomi dari sektor non formal.

Pada sisi yang sama, para pendatang melihat gaya konsumtif dan keengganan sebagian masyarakat Bali mengambil peluang ekonomi dari sektor non formal tersebut sebagai sebuah harapan besarnya untuk merubah ekonominya kearah yang lebih baik.

Sehingga, banyak pendatang bisa hidup layak dan sukses dari hasil keringatnya mengambil peluang hidup dari sektor non formal di Bali. Sebaliknya, Bali seakan begitu ketergantungan dengan pendatang. Sekedar guyonan, dari sate hingga alat-alat upacara keagamaan Hindu di Bali kini telah dikuasai pendatang.

Terhadap hal tersebut, penulis kemudian teringat dengan sebuah ungkapan menggelitik yang penuh nuansa sindiran kepada masyarakat Bali. Yakni orang Bali jual tanah untuk beli sate pendatang dan pendatang jual sate di Bali untuk beli tanah orang Bali.

Pada titik ini, secara sederhana dapat disimpulkan bahwa Bali menjadi tumpuan harapan bagi para pendatang untuk mengadu nasib dengan mengambil peluang pada sektor non formal. Hal tersebut masih berlangsung hingga kini.

Berkaca pada hal tersebut, pada arus balik tahun ini Bali akan ada kemungkinan yang sama dengan arus balik pada tahun-tahun sebelumnya. Yakni, akan ada pendatang baru yang “dibonceng” pendatang-pendatang yang mudik beberapa hari lalu. Artinya, “krama tamiu” akan semakin bertambah di Bali.

Berbicara tentang krama tamiu, sejak puluhan bahkan dari berabad-abad lampau Bali sangat membuka diri. Hal ini terbukti dalam arsitektur tradisional Bali yang mengenal adanya ornamen patra China, patra Mesir, patra Belanda dan sebagainya. Artinya, krama tamiu sangat diterima dan bahkan oleh krama Bali hingga saat ini.

Meski telah terbiasa berbaur dan membuka diri dengan para pendatang, persoalan yang terjadi saat ini yakni dengan masih berlangsungnya krisis akibat pandemi Covid-19, tentu ada hal yang sangat berbeda yang sepatutnya Bali semakin memproteksi dirinya agar penyebaran virus corona segera bisa diputus.

Terlebih lagi ketika mengingat perekonomian Bali sangat tergantung pada sektor industri pariwisata. Sehingga mau tidak mau Bali harus berani tegas dan “pelit” untuk menolak pendatang baru saat arus balik pasca mudik kemarin.

Mengingat sekali lagi, akan sangat mungkin Bali dibanjiri pendatang baru yang diajak oleh teman atau saudaranya yang mudik dan kembali ke Bali.

Tegas dan “pelit” untuk menolak pendatang baru tersebut khususnya dilakukan kepada mereka-mereka yang datang dari zona orange dan zona merah penyebaran Covid-19. Terlebih lagi ketika mereka tidak bisa membuktikan diri melalui surat keterangan bebas Covid-19.

Tidak itu saja, Bali juga harus tegas dan pelit untuk menolak pendatang baru dalam pandemi ini ketika ternyata para pendatang baru tersebut tidak memiliki tujuan jelas dan belum memiliki pekerjaan pasti di Bali. Hal ini harus digarisbawahi, bahwa pasca pandemi banyak perusahaan di Bali telah merumahkan karyawannya.

Sehingga saat ini Bali mengalami krisis lapangan kerja dan tidak sedikit kemudian krama Bali yang dirumahkan tersebut mulai belajar beraktivitas pada sektor non formal. Seperti berdagang, menjadi kuli bangunan dan lainnya hingga pulang ke kampungnya mengolah lahan tegalannya untuk menjadi petani dadakan agar dapur tetap ngebul.

Tegas dan pelit Bali untuk sementara tidak menerima pendatang dalam pandemi ini, khususnya untuk pendatang yang tidak memiliki tujuan dan pekerjaan jelas tentu bukan dalam tujuan memposisikan Bali anti dengan pendatang.

Namun sekali lagi ini sebagai bentuk ketegasan untuk menghindari terjadinya “tsunami” penyebaran Covid-19 yang mungkin terjadi ketika para pendatang itu datang dari zona orange dan zona merah. Sementara Bali saat ini sedang berjuang keras untuk memutus mata rantai Covid-19 agar sektor pariwisatanya dapat berjalan normal. Selain juga untuk meminimalisir kemungkinan terjadinya masalah ataupun konflik-konflik sosial.

Itu artinya, untuk sementara Bali diberikan kesempatan “merawat” dirinya hingga pandemi ini berakhir dan industri pariwisata Bali kembali bergairah. Yakini kemudian, ketika Bali benar-benar telah “merdeka” dari belenggu Covid-19 dan industri pariwisatanya kembali berjalan normal, maka peluang-peluang kerja di Bali akan tetap tersedia untuk digarap oleh para pendatang.

Sikap tegas dan pelit Bali untuk menerima pendatang baru dalam krisis Covid-19 ini tentu harus dilakukan dengan satu kesefahaman para pemegang kebijakan dari tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota hingga yang terbawah.

Termasuk pula oleh para prejuru adat. Mengingat banjar ataupun desa adat masing-masing telah memiliki aturan tertulis dalam bentuk awig-awig yang salah satunya mengatur tentang krama tamiu.

Semua komponen tadi harus tetap dalam satu semangat untuk bersama-sama berjuang memutus mata rantai penyebaran virus corona.

Hal ini tentu bukan persoalan yang sulit, sebab ketika awal munculnya pandemi prajuru adat dan seluruh komponen tadi telah terlatih untuk berjuang melawan penyebaran virus corona melalui Satgas Gotong Royong.

Tidak kalah pentingnya juga, memproteksi Bali dari kemungkinan terjadinya “tsunami” Covid-19 pasca arus mudik kali ini juga harus dilakukan dengan memperketat pengawasan pada pintu-pintu masuk Bali.

Pihak instansi terkait harus berani menempatkan personil-personil terbaiknya. Terutama personil-personilnya yang memang teruji memiliki tanggung jawab dan anti suap.

Hal ini patut menjadi catatan khusus, karena seringnya terinformasikan bahwa adanya oknum-oknum petugas di pintu masuk Bali yang rela menjual harga dirinya dengan beberapa puluh ribu rupiah untuk memberikan pendatang luar khususnya yang tanpa identitas diri untuk masuk Bali.

Oknum-oknum seperti itu tentu akan menjadikan pandemi Covid-19 ini sebagai tambahan penghasilan dengan membutakan nuraninya untuk memberikan pendatang yang tanpa surat keterangan bebas Covid-19 untuk masuk Bali dengan menerima imbalan sejumlah uang.

Penulis : Seorang wartawan yang bebas merdeka, tinggal di Tabanan

RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -
- Advertisment -
TS Poll - Loading poll ...

Most Popular