Ki Tambet

Penulis : Ki Tambe

OPINI, balipuspanews.com – Minggu terakhir ini, musim kemarau panjang seakan telah siap berganti musim, yakni musim hujan. Nyatanya pula, dibeberapa wilayah di Bali telah menerima kucuran air dari langit. Meskipun bisa diibaratkan hujan yang mengguyur beberapa titik di Bali terkesan masih “tebar pesona” tetapi sudah mampu memberi bukti betapa sejuknya ketika kemarau setahun dibalas hujan sehari.

Meski demikian, jika berkaca pada perhitungan musim, dipastikan paling lambat akhir tahun ini hujan akan rutin mengguyur Bali hingga beberapa bulan kedepan. Petani dan peternak sapi tentu gembira, karena lahan sawahnya akan bisa digarap dan ternak sapinya mulai tersedia pakan rumput.

Persoalan terpenting yang mesti direnungkan tentu bukan pada urusan ketersediaan pakan ternak ataupun bisa tergarapnya lahan pesawahan. Apalagi mengingat masyarakat Bali mulai jarang bertani. Diluar itu ada persoalan nan sederhana namun berpotensi menjadi masalah besar bagi lingkungan di Bali.

Perlu disadari, ada kecendrungan masyarakat Bali mulai lemah dalam merealisasikan semangat gotong royong. Berbagai tuntutan hidup diera yang konon semakin moderen ini, menjadikan tidak sedikit krama negeri khayangan kehilangan waktu untuk mekrama. Termasuk pula sempitnya waktu bergotong royong untuk sekedar membersihkan got dilingkungan sekitar rumah atau wilayah banjarnya.

Maaf, sekedar beromantisme pada belasan tahun lalu di banjar penulis yang berada diwilayah jantung kota Tabanan. Saat itu setiap bulan sekali di hari minggu, seluruh krama lanang gotong royong membersihkan lingkungan. Mulai dari sekedar membersihkan telajakan hingga membersihkan got, telabah ataupun saluran air yang ada diwilayah banjar. Gotong royong serupa juga digelar oleh banjar-banjar lainnya. Seakan itu menjadi sebuah sikap siaga dan “sayaga” atau siap menanti musim hujan.

Hasilnya? Saat musim hujan tiba, seberapapun derasnya tidak pernah terjadi banjir ataupun sekedar air meluap di jalan. Tidak hanya itu, telabah yang bersih dan terawat menjadikan beberapa jenis ikan hidup nyaman. Seperti misalnya ikan nyalian, mujair hingga udang dan karper yang hidup dan berkembang biak secara alami. Ini kemudian “dipanen” oleh sekelompok anak termasuk penulis sendiri dengan cara ngenyat (dengan menguras got) atau dengan cara nyau (menjaring). Setelah lelah ngennyat atau nyau lalu membersihkan diri dengan maceburan di got yang itu juga. Tidak berakibat gatal kulit.

Tidak hanya sebatas itu, lancarnya arus air menjadi impian buruk bagi nyamukwan dan nyamukwati. Lancarnya alir air telabah membuat para nyamuk kesulitan bertelor dan berkembang biak. Dampaknya, puluhan tahun lalu sangat-sangat jarang terdengar krama yang menderita demam berdarah. Kalaupun kemudian ada krama yang tiba-tiba mengalami demam tinggi, paling-paling diduga “amah liak”, hehe.

Tetapi yang penting digarisbawahi dari uraian diatas tadi bahwa puluhan tahun lalu telah tumbuh semacam budaya ” memelog” krama dan banjar terhadap alam.

Hanya saja jangan salah tafsir, justru budaya memelog tersebut menunjukkan bahwa betapa hebatnya krama Bali berinteraksi dengan lingkungannya sehingga antara krama dan lingkungannya ini terkesan saling menjaga dengan sedemikian harmonisnya. Padahal saat itu penulis ingat betul kata Tri Hitam Karana belum terdengar mewabah. Tidak seperti sekarang yang seakan menyiratkan konsepsi Tri Hita Karana terkesan sakti dan garang dalam proposal pengajuan dana bantuan atau “mekudus” dalam wacana namun lemah dan impoten dalam realisasi. Demikian pula saat itu kata LSM atau aktivis lingkungan masih “engkeban samar”.

Tetapi puluhan tahun lalu itu aktivitas sederhana dari hanya sekedar membersihkan got atau telabah telah menunjukkan betapa nyatanya krama banjar ber-Tri Hita Karana dan betapa garang dan gigihnya krama banjar menjadi aktivis lingkungan. Setidaknya pula, hasilnya nyata. Lingkungan bersih dan sehat. Nyamuk-nyamuk tidak bisa gemuk.

Lalu kini? Jangankan perkotaan, berbagai titik di pedesaan di Bali telah rawan banjir. Terlebih saat hujan deras atau saat diawal musim hujan. Penyebabnya, ya karena got dibanjiri sampah.

Efeknya saat air tersumbat hingga akhirnya karena banjir air hujan menjadi penyebab air mata. Kenapa ini terjadi? Jawabannya jelas, karena budaya yang tumbuh sekarang adalah budaya gotong ngoyong. Bukan lagi budaya gotong royong.

Sebelum tulisan ini diakhiri, penulis sering mengelus dada (baca: mengelus dada sendiri, bukan mengelus dada orang apalagi dada perempuan) ketika mendengar komentar krama banjar terkait aksi bersih-bersih got yang menandakan semakin lemahnya semangat gotong royong dan semakin menjauhnya rasa tanggungjawab krama terhadap lingkungannya.

Yakni urusan bersih-bersih got adalah tanggungjawab pemerintah melalui dinas terkait. Krama atau rakyat cukup bekerja dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin rumit serta cukup bayar pajak. Bayar pajak, bener? Bayar pajak apa kalau beli paket internet seminggu sekali mampu tapi ketika pemerintah mau menaikkan biaya BPJS saja sudah ribut.

Ah, hujan sudah mulai reda. Penulis ternyata tidak sedang tidur dan bermimpi. Artinya akan menjadi nyata ketika budaya gotong royong di banjar semakin terkikis, maka sangat mungkin saat hujan turun gede-gede buin mokoh-mokoh (jadi ngelantur ke lagu meong-meong) atau saat hujan turun dengan deras-derasnya, banjir masih menjadi catatan buruk di pulau dewata.

Semoga kesadaran kemudian membanjir pada relung nurani krama Bali bahwa gotong royong itu penting, menjaga alam lingkungan itu wajib karena alam lingkungan adalah ibu kehidupan bagi manusia dan segala ciptaannya.

Penulis: Ki Tambet

Ki Tambet bekerja sebagai juru warta bebas merdeka dan sedang menempuh kuliah di World University Program Studi Pembelajaran Hidup Jurusan Terima Kasih Tuhan