Situasi rumah duka di Banjar Kelandis, Desa Pakisan, Kecamatan Kubutambahan.

KUBUTAMBAHAN, balipuspanews.com — Firasat buruk melalui sebuah mimpi dialami Wayan Sadra (56) sebelum cucunya Gede Sumerta (18) tewas tenggelam di air terjun Mabun, Banjar Kelandis, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Minggu (8/12) kemarin.

 

Sadra menjabat Kelian Desa Adat Kelandis mengaku, mulanya tak terlalu mengindahkan mimpi buruk itu, hingga apa yang diimpikan akhirnya menjadi sebuah kenyataan.

 

“Tiga hari lalu (5/12) malam, saya bermimpi memotong bambu, suasana saat itu seperti sedang punya hajatan. Bambu itu rencananya bakal dipakai salon (tempat gong). Kepercayaan kami disini, jika mimpi punya hajatan bakal ada musibah menimpa keluarga,” ungkap Sadra, Senin (9/12).

Membuatnya lebih menyesal, mimpi itu tak sempat disampaikan kepada Wayan Suasta (37) selaku ayah korban. Kala itu, Sadra pun terperanjat kaget setelah mendengar kabar pada Minggu (8/12) sekitar pukul 13.00 WITA dari tetangga, jika cucunya tewas tenggelam di air terjun Mabun.

 

“Kami memang jarang bertemu, karena tempat tinggal berjauhan. Saya tinggal di pondok (tegalan), sedangkan anak beserta cucu tinggal di desa. Mimpi buruk itu belum sempat saya sampaikan kepada siapapun,” katanya.

 

Sementara, Ketut Budiani (36) selaku ibu korban Sumerta enggan mengeluarkan kalimat apapun ketika dimintai keterangan. Kepergian Sumerta begitu cepat rupanya membuat keluarga cukup terpukul. Dimata keluarga korban dikenal rajin dan ulet, bahkan Sumerta juga ikut membantu meringankan beban perekonomian keluarga.

 

“Cucu saya itu hanya lulus SMP saja, tidak melanjutkan ke SMA. Ya, masih bujang, anak bungsu dua bersaudara. Pekerjaan Sumerta sehari-hari buruh ngabas (membersihkan) tegalan, biasanya diupah oleh saudagar,” tutupnya.