Minim Pasokan, Harga Daging Babi di Buleleng Naik

Bibit babi jenis landrace yang diternak oleh warga di Buleleng
Bibit babi jenis landrace yang diternak oleh warga di Buleleng

BULELENG, balipuspanews.com – Berkurangnya pasokan babi diduga membuat harga daging babi melonjak tajam dipasaran. Tentu berkurangnya pasokan ini tidak lepas dari pengaruh menurunnya budidaya atau jumlah babi yang di ternak akibat dari adanya Suspect African Swine Fever (ASF) yang terjadi sebelumnya.

Hal tersebut jelas mempengaruhi harga jual babi yang sebelumnya harga daging babi berkisar diharga Rp. 80 ribu perkilo untuk kualitas super kini naik menjadi Rp. 100 ribu sedang harga kualitas nomor dua awalnya Rp. 75 ribu perkilo kini naik jadi Rp. 95 ribu.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng, I Made Sumiarta menyampaikan untuk awal tahun 2021 pasokan babi daging babi memang berkurang.

Hal tersebut disebabkan karena para peternak yang ada di Buleleng masih trauma sejak adanya virus babi yang hingga kini masih belum bisa dikendalikan. Sehingga hal itu membuat persediaan daging babi menurun dan harganya meningkat.

“Salah satu penyebabnya warga masih takut memelihara babi karena adanya penyakit itu, sebelumnya yang lebih cepat menghasilkan daging selama ini kan jenis landrace, nah disana kendalanya karena kena penyakit,” jelasnya, Kamis (21/01/2021).

Meski begitu pihaknya tidak tinggal diam. Semenjak adanya penyakit babi tersebut pihaknya mencoba mengarahkan agar para peternak lebih memilih beternak babi jenis Bali, sebab dari babi jenis landrace dinilai lebih rentan terpapar penyakit tersebut.

Namun tidak dipungkiri meski telah diarahkan untuk berterima babi Bali, memang dari segi daging yang dihasilkan lebih sedikit dibandingkan landrace.

Sementara itu saat ditanyakan soal harga bibit babi saat ini, pihaknya mengatakan harganya lumayan mahal berkisar di harga Rp. 700 ribu hingga jutaan untuk jenis bibit babi Bali.

“Kita coba arahkan ke babi Bali, cuma kita baru coba memulai. Sebab dari segi jumlah daging yang dihasilkan lebih sedikit dan dari hitungan peternak jelas tidak begitu menghasilkan. Bibit babi Bali sendiri sekarang ditingkat petaninya bisa capai 700 ribu yang paling murah,” ungkapnya.

Disisi lain, Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, dan Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Disdagperinkopukm) Kabupaten Buleleng Dewa Made Sudiarta mengungkapkan kenaikan harga daging babi memang sudah dimulai sejak akhir November 2020.

Namun ia tidak memungkiri kenaikan tersebut sempat disebabkan karena adanya hari-hari raya besar Agama Hindu. Kenaikan harga itupun dinilai tidak signifikan, sebab dengan kondisi yang terjadi seperti sekarang ini pembelian daging babi tidak begitu sering dilakukan masyarakat.

“Secara umum memang harga masih bisa dijangkau oleh masyarakat, sebab dengan kondisi seperti ini pembelian daging juga tidak sering dilakukan paling hanya di hari tertentu saja jadi tidak berpengaruh signifikan ke masyarakat,” paparnya.

Disinggung mengenai stok daging babi pihaknya mengatakan hal yang senada dengan Kadis Pertanian, dimana keterbatasan pemasok begitu berdampak terhadap kenaikan harga daging babi.

Sebab saat ini dengan adanya penyakit babi peternak lokal minim pasokan babi, sehingga tidak jarang pemasok justru hadir dari luar Daerah Buleleng seperti Tabanan, Bangli yang masih sering mengirim pasokan babinya ke Buleleng.

“Kita sudah sempat koordinasi dengan dinas pertanian karena memang beberapa perusahaan yang berternak itu mengurangi, jadi jelas berpengaruh kepada persediaan dan suplay kita dominan dari luar Kabupaten,” tandasnya.

Penulis : Nyoman Darma 

Editor : Oka Suryawan