Minggu, Juli 21, 2024
BerandaKarangasemMiris, Tanggapi Kasus Remaja Bunuh Diri, Dinsos Karangasem Hanya Anggarkan 8 Kali...

Miris, Tanggapi Kasus Remaja Bunuh Diri, Dinsos Karangasem Hanya Anggarkan 8 Kali Sosialisasi dalam Setahun

KARANGASEM, balipuspanews.com – Munculnya kasus bunuh diri yang dilakukan kalangan remaja di Bumi Lahar mengundang keprihatinan banyak pihak.

Pemerintah Kabupaten Karangasem pun didorong untuk serius menyikapi fenomena ini dengan membuat semacam program sosialisasi yang lebih intens yang bisa menyentuh langsung ke sekolah-sekolah maupun kalangan remaja.

Hanya saja, ditengah dorongan yang diberikan kepada pemerintah, Dinas Sosial (Dinsos) Karangasem melalui bidang pemberdayaan perempuan dan pemenuhan hak anak mengaku hanya mengalokasikan 8 kali kegiatan sosialisasi terkait pencegahan kekerasan anak dan perilaku yang dapat merugikan diri sendiri pada tahun 2024 ini.

“Untuk tahun 2024 ini melalui anggaran APBD target cuma 8 kali sosialisasi. Kita masih menunggu anggaran DAK non fisik belum turun, karena didalamnya juga ada program sosialisasi, mungkin nanti bisa ditambahkan dari sana,” kata Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Pemenuhan Hak Anak Dinsos Karangasem, Ni Made Suradnyani dihubungi, Rabu (20/3/2024).

Ia mengatakan, pada tahun 2023 lalu melaksanakan 14 kali sosialisasi, bahkan upaya pencegahan sudah dilakukan dengan menyasar sekolah di wilayah Manggis dengan melaksanakan sosialisasi pencegahan kepada siswa, memberikan pemahaman tentang kekerasan anak hingga terkait pernikahan dini. Disampimg secara langsung, sosialisasi juga dilakukan melalui radio dan sosial media bekerja sama dengan forum anak daerah.

BACA :  Dubes Hongaria: Kolaborasi Indonesia-Hongaria di Bidang Kependudukan Tingkatkan Kesejahteraan Penduduk Kedua Negara

“Sosialisasi yang kita lakukan cukup efektif, namun memang ada beberapa faktor yang menjadi pemicu kasus seperti persoalan ekonomi, asmara hingga faktor pola asuh orang tua yang terlalu memanjakan anak-anaknya sehingga menjadi sulit untuk dikontrol,” imbuhnya.

Melihat fenomena yang terjadi, Suradnyani mengaku kedepan akan fokus melaksanakan sosialisasi terkait pola asuh kepada orang tua, mengingat kasus bunuh diri yang baru-baru ini terjadi ada dugaan karena faktor pola asuh anak. Disamping itu, ada pula rencana pelibatan psikolog, hanya saja itu cukup sulit dilakukan mengingat selama ini di Karangasem belum ada psikolog, setiap kali membutuhkan penanganan psikolog masih harus pergi ke wilayah Denpasar.

“Jika misalnya kedepan ada Psikolog di Karangasem tentu akan kita libatkan turun sosialisasi dalam upaya pencegahan ini,” tandasnya.

Penulis: Gede Suartawan

Editor: Oka Suryawan 

RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -

Most Popular