Sabtu, April 20, 2024
BerandaBadungMitologi "Dewa Berung" Warning Pemujaan Kuningan Lewat Tengah Hari

Mitologi “Dewa Berung” Warning Pemujaan Kuningan Lewat Tengah Hari

Denpasar, balipuspanews.com – Pemujaan Kuningan hendaknya dilakukan pada pagi hari, tidak boleh “kelangkaran surya” (dilangkahi matahari / lewat tengah hari). Apabila pemujaan Kuningan lewat tengah hari, maka yang akan dihaturkan pemujaan adalah “Dewa Berung” yakni sosok dewa yang kotor, borok, dan bau.

“Ya Sundarigama dan Widhi Tatwa engga ada, itu mitologi, jadi menurut titiang sama dengan de nyen negak galeng busul jit nyen atau jangan duduk di bantal nanti pantatnya bisul, mitos itu disampaikan kepada umat mangde tetap trepti ipun meyadnya  atau tepat melakukan upacara agama dan tepat waktu,” kata Ida Adi Diksita Wang Bang Pinatih ketika dimintai keterangannya soal mitologi Dewa Berung, Jumat (4/1).

Jadi menurut Ida Adidiksita dengan nama walaka Dr Jero Mangku I Made Subagia, SG, M.Fil.H  menjelaskan Mitologi Dewa Berung jika sembahyang lewat dari tengah hari itu merupakan warning agar umat trepti dan tertib waktu dalam melakukan persembahyangan.

Karena menurut lontar sundarigama tertuang sembahyang pada seng kangin atau matahari baru terbit merupakan waktunya Widhi atau Nyurya Swana. Jika seng kauh atau lewat waktunya diatas jam 12 siang maka para Pitara Pitari akan munggah ring Kahyangan.

BACA :  Anak Menikah, Pengusaha Kuliner Ditemukan Meninggal di Tegalan

“Ya mitologi Dewa Berung itu adalah warning agar tidak “ditadah” atau dimakan oleh para Butha,” jelasnya.

Sementara itu, seperti diketahui hari tumpek (Tumpek Kuningan) yang jatuh pada saniscara kliwon wara kuningan. Kuningan secara filosofi terlepas dari rangkaian Galungan. Tapi karena harinya berdekatan sehingga tampak sebagai sebuah rangkaian dan dirayakan sebagai Galungan – Kuningan.

Tumpek Kuningan sebagai hari pemujaan khusus kehadapan Dewa (Betara) dan Leluhur (Pitara). Sebagaimana juga kekhususan tumpek yang lain seperti tumpek kandang untuk binatang, tumpek wariga untuk tumbuhan, tumpek landep untuk senjata, tumpek wayang untuk kekuatan supranatural / pasupati / taksu, tumpek krulut untuk suara.

Sebagai tonggak pemujaan khusus, Tumpek Kuningan bahkan lebih “rumit” dan “rimit” dibandingkan dengan Galungan. Seperti sarana tebog, selangi, ceniga dengan daun kayu sedikitnya lima macam, tamiang, ter, endongan, sampian gantung dengan bentuk khusus, tumpeng kuning, nasi kuning, sodan, segehan, dll. Dan semua sarana tersebut sebelum dihaturkan mesti dikuningkan dan disucikan dengan sarana gerusan / tumbukan daun intaran dan kunyit yang diisi air.

BACA :  Kesiapsiagaan Wilayah Terhadap Bahaya Kebakaran, Pemkab Badung Bentuk Relawan Kebakaran

Dalam cakepan Sunar Igama, pada hari Saniscara Kliwon wara Kuningan Ida Hyang Siwa Mahadewa diikuti oleh para Dewa dan Pitara (leluhur) turun dari “kayangan” menuju “mercapada” untuk “mesuci” dan “amukti sarining banten”. Oleh karena itu, sang gama tirtha di mercapada menyambut kehadiran “Betara” dan “Pitara” dengan persembahan pesucian, canang wangi, disertai “selangi”, “tebog”, haturan sesaji, dan segehan, sebagai simbol tapa dan ketulusan memuja Hyang Maha Suci untuk memohon amerta, kemakmuran, kepradnyanan / kebijaksanaan.

Pada hari Kuningan bangunan agar “mesawen” dipasangi “tamiang” (tameng / pelindung) sebagai tanda kemeriahan dan keindahan menyambut kehadiran Betara dan Pitara di mercapada. “Tamiang” dan “ter” juga sebagai simbol memohon perlindungan dan keselamatan kehadapan Betara dan Pitara. Sang Gama Tirtha juga melaksanakan “prayascita” memohon penyucian diri kehadapan Betara dan Pitara dengan sesayut prayascita disertai hening “adnyana” / bhatin.

Ditetapkan bahwa pada hari Kuningan, Ida Betara dan Pitara turun ke dunia pada pagi hari. (Art/berbagaisumber/bpn/tim)

RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -
- Advertisment -
TS Poll - Loading poll ...

Most Popular