Pelepasan tukik
Pelepasan tukik
sewa motor matic murah dibali

SEMARAPURA, balipuspanews.com -Sebanyak 170 tukik jenis Penyu Lekang, kembali dilepasliarkan di Pantai Tegalbesar, Desa Negari, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, bertepatan dengan moment HUT RI ke-74, Sabtu (17/8) pagi. Pelepasan tukik ini melibatkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali, Resort KSDA Klungkung, Polri/TNI, Tegalbesar Cano Fishing (TCF) dan masyarakat sekitar.

Polisi Kehutanan (Polhut) Resort KSDA Klungkung Anak Agung Gde Kusumayuda, tukik yang dilepasliarkan kali ini sebanyak 170 ekor yang didederkan di tempat konservasi penyu di Tegalbesar, dengan tingkat keberhasilan telor yang menetas 80 persen.

Pelepasan ini juga serangkaian moment HUT RI. “Ada instruksi dari pusat telor yang berhasil menetas agar bersamaan dilepasliarkan saat HUT RI,” ujarnya, Minggu (18/8).

Dalam kesempatan itu juga dilakukan pembentukan kepengurusan Tegalbesar Cano Fishing yang diketuai oleh Eka Adnyana, dengan jumlah anggota dari warga Tegalbesar sebanyak 34 orang. Sehingga diharapkan ke depannya mereka bergerak dalam konservasi penyu ini. Maka ketika ditemukan ada telor penyu di pesisir pantai akan diambil oleh warga untuk dikonservasi agar bisa menetas. Tentu tetap berada di bawah pengawasan KSDA. Pihaknya berharap kelompok ini bisa menjadi embrio dalam kelompok pelestari penyu.

Sementara dari hasil penelitian dari 1000 tukik yang dilepas ke laut tingkat keberhasilan hingga tumbuh dewasa hanya 1 persen atau 10 ekor. Pasalnya dalam proses bertumbuh banyak faktor yang mengancam habitat penyu, yakni predator pemangsa maupun lingkungan. Faktor ancaman alami ketika penyu itu bertelur datang dari anjing liar, biawak, dan lainnya.

Untuk pesisir Pantai Tegalbesar di Klungkung, Penyu masih bisa bertelor karena masih ada tempat. Untuk itu diharapkan kepada masyarakat yang menemukan telor Penyu agar berkoordinasi dengan KSDA untuk dikonservasi atau dideder agar bisa menetas. Penyu Lekang ini juga dilindungi.

Berdasarkan UU No 5 Tahhn 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekositemnnya, pada pasal 21 ayat 2 huruf a masyarakat dilarang memelihara, memiliki, menyimpan memperniagakan, membunuh/membinasakan safwa-satwa liar yang dilindugi UU. Baik dalam keadaan hidup ataupun mati dan bagian-bagiannya. Pada Pasal 40 bagi yang melanggar pasal 21 tersebut hukumannya kurungan maksimal 5 tahun dan denda Rp 100 juta. (Roni/bpn/tim)