Ketua Bidang Pendidikan, Sosial dan Budaya Yayasan Kerthayasa Tabanan, Liem Surya
Ketua Bidang Pendidikan, Sosial dan Budaya Yayasan Kerthayasa Tabanan, Liem Surya

TABANAN, balipuspanews.com – Sabtu (25/1) yang akan datang warga keturunan Tionghoa merayakan hari raya Imlek 2571. Lalu seperti apa persiapan umat menyambut hari raya Imlek tersebut?

Kepada awak media ini, Rabu (22/1), Ketua Bidang Pendidikan, Sosial dan Budaya Yayasan Kerthayasa Tabanan, Liem Surya Adinata mengatakan pada jaman dulu perayaan Imlek identik dengan kegembiraan menyambut musim semi dari musim dingin di Tiongkok. Kini, dalam menyambut hari raya Imlek umumnya ditingkat rumah tangga, umat melakukan beberapa kegiatan.

Seperti membersihkan  tempat suci dan abu leluhur. Abu leluhur yang dimaksudkan bukan abu jenasah tetapi abu sisa pembakaran dupa. Abu leluhur ini juga sebagai simbolisasi umat dalam menghormati leluhurnya.

Sebagaimana halnya warga lokal (Hindu) Tabanan yang memiliki tradisi ngejot, menjelang hari raya Imlek umat juga melakukan tradisi ngejot. Umumnya dalam budaya ngejot sebelum hari raya Imlek ini berupa makanan yakni aneka kue, lauk dan buah-buahan.

Selain persiapan ditingkat rumah tangga, pengusaha ayam petelur ini mengatakan umat juga melakukan persiapan menyambut hari raya Imlek di Kongco Bio atau Vihara. Di Tabanan sendiri hal itu dilakukan di Kongco Bio atau Vihara Dharma Cattra yang berlokasi di Jalan Melati nomer 18, Tabanan. Adapun bentuk persiapannya berupa kerja bhakti, bersih-bersih dan menghias Dharmasala, Bhaktisala dan Pagoda Kwam In. Termasuk pula memperindah halamannya dengan memasang ratusan lampion.

Lebih jauh Liem Surya Adinata mengatakan persembahyangan hari raya Imlek sendiri berlangsung sehari sebelum Imlek yang tahun ini digelar pada Jumat (24/1). Persembahyangan dimulai di Cetya dan leluhur. Umat yang ada di kota Tabanan kemudian melanjutkan persembahyangan di Kongco Bio atau Vihara Dharma Cattra. Adapun umat yang diperkirakan hadir mencapai ribuan orang.

“Persembahyangan di Kongco Bio atau Vihara Dharma Catrra ini digelar tepat pada tengah malam. Persembahyangan tersebut dipimpin Laucu Tauke atau mereka yang ngayah mewakili umat yang dijabat selama satu tahun,” ungkapnya.

Ditambahkannya, setiap perayaan Imlek ada beberapa sarana yang wajib ada. Seperti kue keranjang sebagai simbol penyambutan tamu, manisan segi delapan sebagai anugerah yang terus mengalir dan siumi atau mie panjang sebagai simbol anugerah panjang usia. Selain itu juga wajib ada buah-buahan, khususnya buah jeruk Mandarin dan tebu sebagai simbolisasi kemakmuran.

“Pemasangan sebatang tebu di pintu masuk pekarangan juga bisa diibaratkan seperti mamenjor ketika semeton Hindu merayakan Galungan,” terangnya.

Lima belas hari kemudian setelah Imlek atau bertepatan dengan hari purnama, umat merayakan Cap Go Me dan siejid (ulang tahun Kongco. Pada hari tersebut umat melakukan sembahyang Cie Swak atau sembahyang tolak bala.

“Tujuan sembahyang Cie Swak ini untuk menetralisir pengaruh negatif shio yang tahun ini merupakan tahun dengan shio tikus logam. Adapun yang ciong atau kurang beruntung di shio tikus logam ini adalah mereka yang bershio kuda, ayam, kelinci dan shio tikus,” tutupnya.(rls/ BPN/ rah)