Tradisi ngelawang setiap wuku dunggulan. Nampak sesuhunan Ida Ratus Mas sedang katuran disalah satu pura serangkian wuku dunggulan
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Gianyar, balipuspanews.com- Tradisi ngelawang yang datang setiap wuku Dunggulan hingga Buda Kliwon Pahang semakin menurun itensitasnya. Tradisi enam bulanan itu belakangan hanya berlangsung diwilayah desa pakraman masing – masing. Padahal, ngelawang sebelumnya sampai ke desa pakraman lainnya yang berlangsung hingga berhari – hari.

“ Ngelawang mengandung konsep menyamabraya. Lewat ngelawang kita bisa bertemu dengan masyarakat lainnya untuk bertukar informasi tentang berbagai hal. Saya berharap hal ini tetap terjaga,” kata Jero Mangku Nyoman Piartha, Pemangku Pura Gunung Sari, desa pakraman Bayad, Kedisan, Tegallalang.

Pemangku yang juga dosen IHDN Denpasar itu menyebutkan, leluhur orang Bali telah menanamkan konsep kebersamaan sesama semeton Bali.

“ Kalau tidak saat ngelawang kapan lagi kita bisa bertemu mesadu ajeng. Apalagi itensitas kegiatan akibat rutinitas belakangan begitu padat,” sebut Piartha.

Untuk itu, pihaknya mendukung tradisi ngelawang tetap ajeg dan terjaga karena menjadi ciri khas budaya Bali. Selain itu, demikain Mangku Piartha, ngelawang juga mengandung nilai magis. Sesuai dengan lontar Siwa Tatwa, ngelawang adalah atas perintah Dewa Siwa untuk mermurnikan alam.

Dalam lontar tersebut dijelaskan, sebelumnya keadaan bumi gonjang – ganjing karena ada merana dan berbagai penyakit. Maka, Dewa Siwa menyuruh para dewata untuk turun sesuai perannya masing- masing. Akhirnya dewata turun menjadi penari, penabuh dan berbagai peran untuk menghibur umat manusia.

Mendapat berbagai hiburan alam kembali tenang dan damai. Selain itu, barong juga merupakan simbolis Dewa Siwa untuk menetralkan energy negative akibat pengaruh bhuta dunggulan dan bhuta – bhuti.

Sementara itu, tradisi ngelawang di desa pakraman Bayad, Kedisan, Tegallalang tetap dipertahankan. Selain berlangsung dilingkungan setempat, ngelawang juga berlangsung diluar desa. Seperti Rabu ( 13/6) 2018, warga Bayad ngiring Ida Bhatara Mas, ngelawang di desa pakraman Manukaya, Tampaksiring dan desa pakraman Calo Tegallalang.( sur)

 

 

Tinggalkan Komentar...