Nyonya Rai Wahyuni Sanjaya: Maknai Hari Ibu, Jadilah “Luh Luih”

Nyonya Rai Wahyuni Sanjaya
Nyonya Rai Wahyuni Sanjaya

TABANAN, balipuspanews.com – Setiap tanggal 22 Desember, masyarakat Indonesia memperingati Hari Ibu. Tentu ada berbagai spirit yang bisa diteladani dari peringatan tersebut. Sebuah pesan sekaligus harapan menarik terkait peringatan Hari Ibu tahun 2019 ini datang dari Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Tabanan, Nyonya Rai Wahyuni Sanjaya. Seperti apa? Berikut ulasannya.

Kepada awak media ini, Kamis (19/12) istri Wabup Tabanan Dr. Sanjaya ini mengatakan bahwa sosok ibu adalah sosok yang mulia. Setidaknya, seorang ibu adalah Widhi sekala bagi anak-anaknya.

Terkait dengan hal tersebut ia kemudian mengajak semua kaum ibu dan perempuan di Tabanan menjadikan diri mereka sebagai sosok-sosok yang mulia. Mulia yang dimaksudkannya ini tidak semata-mata hanya mampu melahirkan anak-anaknya namun juga kemuliaan dalam berpikir, berwacana hingga mulia dalam berprilaku.

“Menjadi perempuan atau kaum ibu yang selalu berpikir, berwacana dan berprilaku mulia yang pada akhirnya menjadikan sosok-sosok ibu sebagai sosok Luh Luih,” sebutnya.

Menurutnya, menjadi sosok ibu yang mulia atau Luh Luih ini tentu harus tetap mengacu pada kodratnya sebagai perempuan. Artinya selain menjadi pendamping suami, seorang ibu atau perempuan juga harus mampu memerankan dirinya dalam segala lini kehidupan. Termasuk pula mengambil peran-peran yang umumnya dilakukan oleh kaum laki-laki, khususnya dalam aktivitas keprofesian termasuk pula dalam jajaran kepemerintahan dan dunia perpolitikan.

Khusus di Tabanan imbuhnya, untuk menjadi sosok-sosok Luh Luih, kaum ibu salah satunya bisa meneladani sosok pahlawan Sagung Wah. Menurutnya, jiwa heroik dan patriotismenya akan selalu dikenang dari generasi ke generasi. Perempuan Tabanan menurutnya harus bangga bahwa dalam kesejarahannya memiliki pahlawan perempuan yang sedemikian pemberaninya.

“Terlahir sebagai keturunan darah biru, Sagung Wah sedemikian beraninya mengambil peran dibarisan terdepan memimpin pasukannya melawan penjajah yang unggul baik dalam senjata maupun strategi perang,” jelasnya.

Melihat sosok kepahlawanan Sagung Wah tadi lanjutnya, maka dalam kekinian untuk menjadi sosok Luh Luih, perempuan Tabanan harus berani “bertempur” dengan mengambil peran-peran nyata dalam pembangunan sesuai dengan visi Tabanan Serasi. Peran yang diambil tersebut tentunya juga disesuaikan dengan bidangnya masing-masing. Sehingga pada akhirnya dengan peran aktif sosok-sosok Luh Luih, pembangun di Tabanan semakin maju dan berkembang pesat.

“Ayo perempuan Tabanan tunjukkan diri sebagai sosok-sosok Luh Luih dengan ikut berperan serta dan nyata membangun Tabanan,” tutupnya. (Ra/BPN/ tim)