Obok-obok Tajen, Polisi Amankan Dua Orang Pelaku di Desa Panji

Pelaku penyelenggara judi tajen di Desa Panji, saat ditunjukan kepada awak media di Mapolres Buleleng
Pelaku penyelenggara judi tajen di Desa Panji, saat ditunjukan kepada awak media di Mapolres Buleleng

BULELENG, balipuspanews.com – Dua orang penyelenggara tajen berhasil diamankan Jajaran Satreskrim Polres Buleleng.

Keduanya berhasil diamankan setelah pihak kepolisian mengobok-obok penyelenggaran judi sabung ayam atau tajen di tengah pandemi Covid-19, pada Minggu (17/01/2021) sekitar pukul 17.30 WITA, di Banjar Dinas Mandul, Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng.

Kanit I Pidana Umum (Pidum) Satreskrim Polres Buleleng, Ipda Kevin Simatupang menerangkan pihaknya berhasil melakukan pengungkapan kasus judi tajen di wilayah tersebut berawal dari adanya laporan masyarakat.

Setelah mendapatkan laporan warga secara perlahan pihaknya kemudian melakukan upaya penyelidikan hingga akhirnya berhasil mengamankan dua orang yang bertanggung jawab dalam pergelaran judi tajen tersebut.

“Dari laporan itu, akhirnya kami lakukan pengecekan, ternyata benar di halaman belakang rumah milik penyelenggara sedang berlangsung judi sabung ayam,” terangnya, Selasa (19/1/2021), saat merilis kasus tersebut di Mapolres Buleleng.

Sontak saat dilakukan penggerebekan, sebagian besar bebotoh berhasil kocar-kacir melarikan diri.

Namun polisi yang bergerak cepat kemudian langsung mengamankan dua orang sebagai pelaku yakni DGGWA,30, selaku penyelenggara judi tajen dan GNAS,32, selaku saye yang juga warga Desa Panji.

Dari kedua pelaku polisi berhasil mengamankan barang bukti berupa 2 buah taji, 1 gulung bulang (benang pengikat taji ayam), 1 buah kurungan ayam, 1 ekor ayam hidup, 2 ekor ayam mati, serta uang tunai sebesar Rp. 135 ribu.

“Keduanya ini sebagai orang yang bertanggungjawab kegiatan judi tajen itu. Pelaku sengaja menyelenggarakan judi tajen saat hujan, dan beranggapan tidak akan ada petugas yang datang untuk melakukan penggerebekan,” ungkapnya.

Kedua pelaku akhirnya terancam dijerat dengan Pasal 303 KUHP tentang perjudian dengan ancaman hukuman pidana paling lama 10 tahun penjara Jo Pasal 93 ayat (1) UU RI No. 6 Tahun 2018 tentang kekarantinaan kesehatan dengan ancaman hukuman pidana 10 tahun penjara dan denda Rp. 25 juta hingga Rp. 100 juta.

“Kedua pelaku ini disangkakan dengan undang-undang kekarantinaan, karena judi tajen ini bisa menyebabkan kerumunan warga, dan tidak mematuhi penyelenggaraan kekarantinaan kesehatan sehingga menyebabkan kedaruratan kesehatan,” tegasnya.

Sementara itu, salah seorang pelaku yakni DGGWA yang ditanya langsung mengenai alasan pelaku memilih menyelenggarakan tajen enggan berkomentar banyak. Ia hanya mengaku menggelar judi tajen untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.

“Hasilnya, memang untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, saya tidak bekerja” tutupnya.

Penulis : Nyoman Darma 

Editor : Oka Suryawan