Oknum Staf DPMPTSP Kembalikan Uang Ke Kejaksaan, Kadis Jelaskan Kronologis

I Made Kuta, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Buleleng (dok)
I Made Kuta, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Buleleng (dok)

BULELENG, balipuspanews.com – Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Buleleng I Made Kuta memberikan klarifikasi soal dugaan ada anak buahnya yang mendapatkan aliran dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Pariwisata.

Menyikapi hal itu, Made Kuta langsung memanggil oknum staf tersebut. Setelah berhasil menggali informasi dari stafnya, didapat bahwa hal tersebut benar adanya. Akan tetapi Ia mengatakan bahwa uang yang diterima stafnya itu telah dikembalikan ke pihak Kejaksaan.

“Nah disini kemudian kami mendengar tentang apa yang disampaikan oleh staf kami karena tadi baru dia yang bersangkutan menyetor pengembalian uang ke kejaksaan kami bahkan sudah menanyakan kepada yang bersangkutan,” ujarnya saat ditemui langsung diruang kerjanya, Kamis (18/2/2021).

Selain itu dirinya juga menceritakan, bahwa kronologis awal dari penerimaan uang tersebut bermula tepat saat pihaknya diundang untuk memverifikasi perizinan Hotel, Bar dan Restoran yang akan mendapatkan bantuan dari dana PEN, itu diadakan oleh Dinas Pariwisata (Dispar) sekitar tanggal (26/10/2020).

Kebetulan pada saat itu pihaknya yang tidak bisa menghadiri kemudian menunjuk tiga orang staf yang terdiri dari satu Kepala Bidang dan dua staf.

Lalu semenjak tanggal tersebut hingga berkisar sekitar dua bulan sebanyak 900 perizinan telah selesai diverifikasi dan seluruh pelaku usaha Hotel, Bar, dan Restoran telah mendapatkan bantuan dari dana PEN tanpa ada permasalahan.

“Nah dari tanggal itulah dia (Staf) mengadakan verifikasi dan kami memberikan data sekitar 900 perizinan yang sudah ada TDUPnya. Dari segi perizinan kami bisa pertanggung jawabkan tidak ada permasalahan,” terangnya.

Selanjutnya dalam proses keseluruhan tersebut, ketiga stafnya ini bekerja dengan keras dari pagi hingga malam agar semua bisa selesai sesuai target. Setelah selesai kemudian ketiga staf tersebut dipanggil oleh salah satu tersangka yang saat itu berposisi sebagai Sekretaris dan diberikanlah sejumlah tiga amplop berisi Rp1 juta, Rp500 ribu, dan Rp500 ribu.

“Nah ditanyakan lah itu uang apa kemudian dijawab oleh si pemberi bahwa uang itu sebagai uang lelah,” jelasnya.

Saat itu yang menghadap hanya ada satu staf dan sisa amplopnya dititipkan untuk dua lainnya. Karena dianggap uang lelah yang belum diketahui asalnya apakah uang pribadinya atau uang pemerintah. Rasa curiga pun muncul dari si penerima uang lelah tersebut.

“Waktu itu sempat ditanyakan uang itu uang apa saya (staf) mau tanda tangani kalau memang dana itu uang lembur kan tentu ada daftar administrasinya. Tapi ini tidak ada hanya dibilang uang lelah sama si pemberi,” ungkapnya.

Terakhir Made Kuta mempertegas bahwa di DPMPTSP tidak menerima apa-apa dan uang sebelumnya murni diterima seorang stafnya akan tetapi uang tersebut diterima karena ada dalil sebagai uang lelah dari si pemberi.

“Kami sampaikan lembaga kami nyatakan itu clear tidak menerima apa-apa, ini individu seseorang saja staf kami menerima karena menganggap uang itu uang lelah,” tandasnya.

Penulis : Nyoman Darma

Editor : Oka Suryawan