Olimpiade Tokyo 2020 Ditutup: Peringkat Indonesia Merosot, DPR Desak Evaluasi Menyeluruh

Penutupan Olimpiade Tokyo 2020. (Foto: YouTube)
Penutupan Olimpiade Tokyo 2020. (Foto: YouTube)

JAKARTA, balipuspanews.com – Olimpiade Tokyo 2020 resmi ditutup hari ini, Minggu (8/8/2021). Penutupan kompetisi olahraga terbesar di dunia itu telah dipadamkan yang menandai berakhirnya gelaran Olimpiade yang berlangsung sejak 23 Juli 2021.

“Menyimak prestasi Indonesia, harus diakui dari segi perolehan medali kita tidak memperoleh kemajuan. Bahkan dari segi peringkat raihan medali, kita justru merosot dari peringkat 46 ke peringkat 54,” ucap Anggota Komisi X DPR RI, Andreas Hugo Pareira dalam keterangan tertulisnya, Minggu (8/8/2021).

Anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan ini mengungkapkan menurunnya peringkat Indonesia dalam perolehan medali itu otomatis menjadikan Indonesia keluar dari 50 besar dunia.

“Kalau ditelusuri prestasi kita di Olympiade dari tahun ke tahun pun, kembali harus diakui sejak pertama kali meraih medali perak pada olimpiade Seoul tahun 1988, prestasi emas kita di olimpiade baru terdongkrak ketika bulutangkis menjadi cabor yang dipertandingkan di olympiade Barcelona 1992,” ujarnya.

Sejak itu hanya bulutangkis yang berhasil menyumbang emas di olimpiade rata2 1 emas dengan puncaknya pada 1992 dengan 2 emas.

“Dari segi cabor, sejak keikutsertaan kita di olympiade hanya baru 3 cabor yang menyumbang medali, bulutangkis (8 emas, 7 perak, 6 perunggu), Angkat Besi (7 perak, 8 perunggu) dan panahan (1 perak),” bebernya.

Cabor selebihnya masih hanya sebatas sebagai partisipan dari olimpiade ke olimpiade. Namun, di sisi lain banyak pihak yang selalu bangga sebagai bangsa besar dengan jumlah penduduk nomor 4 terbanyak di dunia, namun dalam hal prestasi olahraga, masih jauh tertinggal dari banyak negara-negara lain di dunia.

“Lantas apa artinya? Pertama, kita perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap olahraga prestasi di negara ini, kalau kita ingin berprestasi lebih pada tahun-tahun yang akan datang. Kedua, kita sebagai negara harus mempunyai grand design pembinaan olahraga prestasi yang terstruktur,” tegas Andreas.

Ia berharap negara harus terlibat sejak rekrutmen, pembinaan dan penyelenggaraan kompetisi.

“Karena jujur saja, selama ini negara tidak banyak berbuat untuk olahraga. Kita baru bangga dan mengelu-elukan ketika ada atlit berprestasi. Hadiah untuk atlitpun mengalir,” kritiknya.

Sementara dalam proses dari rekrutmen sampai dengan prestasi kehadiran negara minim.

“Ketiga, sebagaimana yang telah digembar-gemborkan oleh Menpora, negara harus membuat dan secara konsisten melaksanakan sebuah ‘grand design’ olahraga prestasi untuk Indonesia,” kata Andreas.

Ia berharap grand design harus memiliki pilihan berdasarkan latar belakang prestasi, cabor-cabor mana yang akan menjadi unggulan untuk target prestasi dunia, yakni olimpiade.

Pemilihan cabor-cabor ini harus didasari oleh metode sport scientific sehingga dalam rekrutmen, pembinaan, kompetisi sampai dengan event-event pertandingan pun terukur dan bisa dievalusi secara ilmiah. Bukan hanya berdasarkan selera dari para penguasa olahraga.

“Hanya, dengan pendekatan ilmiah, dunia olahraga kita baru akan terdongkrak maju dalam prestasi internasional, prestasi olympiade. Belajarlah dari negara-negara yang prestasi olahraganya menjulang. Kitapun bisa, kalau kita mau,” pesan Andreas.

Penulis : Hardianto

Editor  : Oka Suryawan