Pedagang buah mengakui sepi pembeli akibat wabah corona
Pedagang buah mengakui sepi pembeli akibat wabah corona

DENPASAR, balipuspanews.com –
Pedagang buah lokal mulai panceklik penjualan setelah pemerintah mengeluarkan edaran agar warga menjauhi keramaian untuk mencegah mewabahnya virus corona.

Beberapa pedagang buah lokal di kota Denpasar mengaku sepi oderan. Belum cukup sampai disitu. Harga buah juga anjlok akibat menurunnya pembeli.

“ Dampak dari wabah Corona ini sangat terasa hingga 60 persen. Penurunan untuk penjualan buah lokal Bali,” kata I Made Sianta, 53, saat ditemui di kantor Dinas Pertanian Provinsi Bali, Rabu (18/3/2020).

Menurutnya, penurunan omzet penjualan mulai terasa sejak sepekan ini. Terlebih dengan dibatasinya seseorang dalam kerumunan, tentu ini berdampak signifikan.

Kalau sebelum ada isu corona ini, 800 kilo gram buah manggis laku terjual di dua langganan supermarket yang ada di Denpasar.

“ 800 kg habis dalam sehari di kirim ke Moena Fresh dan Tiara. Sekarang orderan sudah tidak ada,” keluhnya sambil melayani orang berbelanja diatas mobilnya.

Petani dan pengepul buah lokal Bali ini menuturkan, sebelumnya, harga 1 kilo gram buah manggis saat pasaran normal bisa laku 60 ribu untuk kelas 1, dan 40 ribu untuk kelas 2 ini standar ekspor.

Berbeda halnya dengan sekarang, untuk yang super dijual Rp 18 ribu per kilo, dan kelas 2, dijual dengan harga Rp 8 hingga Rp 10.

“ Banyak buah lokal yang kami jual seperti wani, salak gula pasir, manggis ini menjadi buah unggulan. Yang lainnya ada alpukat, durian dll,” paparnya sembari geleng-geleng kepala.

Omzet sehari kata pengepul asal Baturiti, Tabanan, saat kondisi normal bisa tembus Rp 2 juta hingga Rp 3 juta perhari. Sedangkan sekarang ini menurun drastis bahkan minim orderan.

Padahal, menjelang hari raya Nyepi ini kesempatan baginya untuk meraup banyak pundi-pundi rejeki karena masyarakat Bali mayoritas melaksanakan upacara.

Mendengar adanya pembatasan kerumunan dalam rangkaian upacara melasti juga dibatasi, ini juga berpengaruh signifikan yang menyebabkan dagangannya sepi.

“ Harapan kami, semoga kondisi ini cepat berakhir hingga kembali normal seperti biasa. Bayangkan baru pembatasan kerumuan sudah ekonomi lesu, jika ada kebijakan lockdown dari pusat bagaimana nasib kita – kita, ” ujarnya.

Selain melayani supermarket, ivent festival pertanian juga menjadi sambilan untuk berjualan beraneka buah lokal Bali. Seperti kondisi sekarang ini, festival juga belum ada informasi. Dirinya berpikir nampaknya susah akan mengadakan festival selama situasinya seperti ini.(bud/bas)