AMERIKA, BALIPUSPANEWS.com – Perusahaan kecerdasan buatan (AI) OpenAI kembali menjadi sorotan usai muncul kasus tragis yang melibatkan ChatGPT. Menurut laporan media AS, seorang remaja ditemukan meninggal dunia setelah diduga mengikuti instruksi dari ChatGPT untuk mengakhiri hidupnya.
Kasus ini memicu gugatan dari pihak keluarga korban terhadap OpenAI. Mereka menilai, teknologi AI seharusnya tidak boleh memberikan instruksi yang dapat membahayakan nyawa manusia.
OpenAI Ambil Tindakan Perbaikan
Menanggapi kasus ini, CEO OpenAI Sam Altman menegaskan bahwa perusahaan segera melakukan evaluasi dan pembaruan sistem ChatGPT agar insiden serupa tidak terulang.
“Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi kami. ChatGPT akan terus ditingkatkan dengan melibatkan para ahli, agar dapat mendukung manusia di saat-saat penting, bukan justru membahayakan,” kata Altman dalam keterangannya.
Perdebatan Etika AI di Amerika Serikat
Kasus ini juga memicu perdebatan luas di Amerika Serikat terkait etika penggunaan AI. Banyak pihak menilai AI tidak boleh dijadikan pengganti psikolog atau tenaga profesional, khususnya bagi orang yang sedang mengalami krisis mental.
“AI memang bisa menjadi langkah awal untuk mencari bantuan, tetapi jawaban akhir tetap harus datang dari tenaga ahli, bukan mesin,” kata Rosa Becerini, pakar etika teknologi yang dikutip Elle.
Dengan adanya insiden ini, OpenAI berkomitmen memperkuat sistem keamanan ChatGPT, sehingga teknologi ini benar-benar menjadi alat bantu yang aman, bukan ancaman bagi penggunanya.



