JEMBRANA, balipuspanews.com– Selama ini sektor pertanian memang mengandalkan pupuk kimia untuk meningkatkan produksi. Padahal dampak dari penggunaan pupuk kimia selain berbahaya juga mengakibatkan pengerasan tanah, pemusnahan mikroorganisme, pencemaran air, dan pemicu gangguan kesehatan.
Dilansir dari Hunker, asam klorida dan asam sulfat pada pupuk kimia di dalam tanah melarutkan remah-remah tanah yang kaya akan mineral sehingga menyebabkan tanah mengeras.
Dilansir dari Conserve Energy Future, konsentrasi nitrogen dan nutrisi akan masuk ke dalam air dan menyebabkan eutrofikasi yang memicu alga bloom, yaitu lonjakan mikroorganisme yang akan menyebabkan penurunan kadar oksigen juga pelepasan racun.
Dilansir dari Amos Institute, konsentrasi cadmium dan aluminium akibat penggunaan pupuk kimia berperan dalam patofisiologi Alzheimer.
Yang berarti penggunaan pupuk kimia memicu penyakit Alzheimer. Dari data tersebut maka jika dibiarkan dalam waktu lama akan menyebabkan tanah kering dan padat serta ekosistem air mati dan bisa dikatakan zona mati.
Dengan bahaya dari penggunaan pupuk kimia, kini sektor pertanian mulai berbenah untuk menggunakan pertanian organik sebagai solusi keberlanjutan ekosistem pertanian di masa mendatang.
Menurut Direktur CV. Jimbaran Bali Pertiwi, Anak Agung Ngurah Suyasa penanaman padi secara organik ini diawali dari penebaran pupuk organik , pupuk kandang sapi dan 25 Kg NPK sampai pada pemeliharaan sebelum panen hanya dengan penyemprotan pupuk organik RIOGEN ini.
“Ini adalah panen perdana seluas 20 are di Denplot BPP ini. Dan kami melakukan penanaman percobaan penggunaan pupuk organik ini seluar 1 hektar, yaitu 20 are di Subak Semanggong, 15 are di Subak Pecelengan, 30 are di Subak Tegalwani, dan 15 are di Subak Sawe,”ujarnya.
Bupati Jembrana, I Nengah Tamba saat ikut memanen padi Perdana Hasil Demplot Penggunaan Pupuk Organik Hayati Cair “RIOGEN”di Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Mendoyo, Selasa (30/11/2021) mengatakan penggunaan pupuk organik harus sudah dimulai untuk menjaga kesuburan tanah tetap terjaga dan ekosistem di sekitarnya tetap hidup.
“Berdasarkan hasil panen ini bahwa dari segi hasil tidak terjadi penurunan jumlah gabah dan penambahan biaya perawatan padi organik ini dibandingkan kimiawi. Jadi disini untung petani, dan saya sangat senang dengan program organik ini,”tegasnya.
Penulis: Anom
Editor: Oka Suryawan



