Pagi Bertani, Malam di Pengungsian

ilustrasi
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Karangasem, balipuspanews.com –Bagi para petani, sawah, ternak dan kebun merupakan harta benda paling berharga yang mustahil untuk ditinggalkan. Seperti situasi saat ini, Gunung Agung berstatus awas. Meskipun hampir seluruh warga memilih untuk ngungsi menjauhi zona KRB, namun para petani tetap bersiteguh kembali melawan bahanya untuk tetap merawat padi yang mereka tanam dan dirawat seperti anak sendiri.

“Ya kasihan jika ditinggalkan, apalagi sekarang usia padi sudah masuk dua bulan, lagi enak-enaknya dipandang,” ujar salah seorang petani asal Selat, Gede Wijaya.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Ketut Sutirta seorang petani tuak asal Desa Duda Utara, dirinya bahkan rela mondar mandir dari pengungsian kembali kekampung hanya untuk “Ngirisin” merawat dan mengambil tuak yang dikumpulkan dari hari sebelumnya.

Menurutnya, jika sehari saja tidak melakukan rutinitas tersebut maka pohon jaka bisa saja berhenti mengeluarkan tuak, karena memang untuk merawat batang bunga dari pohon jaka tempat keluarnya tuak tidak boleh sembarangan harus setiap hari di rawat dan dibersihkan. “ya kalo tidak dibersihkan sehari bisa saja batang bunga akan mengering dan tidak mengeluarkan tuak lagi,” katanya.

Kedaan ini tentunya menjadi dilema bagi seluruh petani yang berada dizona bahaya karena mau tidak mau kedepan jika kemungkinan terburuk Gunung Agung meletus harus pergi meninggalkan harta yang mereka anggap paling berharga selain keluarga.

Tinggalkan Komentar...