Panca Wali Krama Pura Besakih, Desa Pakraman Buleleng Majukan Melasti

138
Ribuan Krama Desa Pakraman Buleleng mengikuti melasti, Minggu (3/3) sore.

SINGARAJA, balipuspanews.com — Desa Pakraman Buleleng menggelar melasti. Pelaksanaan melasti diikuti 14 banjar adat di desa Pakraman Buleleng. Puluhan sarad dan kotak ampilan sejumlah pura dadia dan panti dengan simbolis pralingga dan pratima diusung oleh warga krama masing-masing.

Krama mulai berkumpul Pura desa Pakraman Buleleng, sekitar pukul 13.00 wita. Selanjutnya bersama-sama menuju Pura Segara Buleleng dengan menyusuri jalan Mayor Metra, Gajah mada, Hasanuddin dan makekobok (menyusuri bibir pantai) dan berakhir di Pura Segara Desa Pakraman Buleleng, dipimpin pemangku Pura Kahyangan Tiga.

Kelian desa Pakraman Buleleng Nyoman Sutrisna menjelaskan, untuk kali ini pelaksanaan melasti berbeda dari biasanya yang dilaksanakan pada Purnama Kedasa.

Hal itu tidak terlepas dari pelaksanaan Panca Walikrama di Pura Besakih. Dalam awig-awig desa pakraman adat Buleleng Pasal 80 ayat 1 beserta penjelasannya menyatakan bahwa jika melasti bersamaan dengan rangkaian pelaksanaan Panca Walikrama di Pura Besakih maka pelaksanaan melasti yang biasanya diselenggarakan pada Purna Kedasa alias dimajukan pada sasih kesanga

Mengacu pada lontar Sundarigama dan lontar Aji Swamandala bahwa melasti merupakan pembersihan alam melalui prosesi Anganyutaking malaning bumi , ngamet tirta amerta atau menghanyutkan kekotoran alam menggunakan air kehidupan.

Menurutnya, tujuan melasti adalah Ngiring Prawatek Dewata atau mengingatkan umat untuk meningkatkan bakti kepada Ida sanghyang Widhi Wasa, anganyutaken laraning jagat atau membangun kepedulian untuk mengentaskan penderitaan masyarakat, anganyutaken papa klesa atau menguatkan diri dengan membersihkan diri dari kekotoran rohani serta anganyut aken letuhan bhuwana atau bersama-sama menjaga kelestarian alam.

Selanjutnya dilaksanakan angemet tirta amerta yakni mengambil air suci dari tengah laut yang dilakukan oleh karma Tridatu desa Pakraman Buleleng. Setelah nunas tirta ribuan umat kembali ke tempat masing-masing masih dengan berjalan kaki.

“Tujuan daripada kita melakukan melasti sekarang adalah untuk membersihkan Bhuwana Alit maupun Bhuwana Agung yang ada di masing-masing desa pakraman,” singkat Kelian Adat Sutrisna, Minggu (3/3) sore.

Loading...