Pande Putu Widya Paramarta menunjukkan kemasan teh beras hitam produksinya
Pande Putu Widya Paramarta menunjukkan kemasan teh beras hitam produksinya

TABANAN, Balipuspanews.com – Tabanan, khususnya Subak Bengkel, Kediri Tabanan layak berbangga. Hal ini dikarenakan salah satu krama diwilayah subak tersebut merupakan seorang petani muda, berlatar belakang sarjana dari salah satu universitas ternama di Jawa Timur. Sarjana yang lebih memilih berprofesi berbaur lumpur tersebut tiada lain Pande Putu Widya Paramarta.

Sebagai seorang petani muda dan berlatar belakang sarjana, Widya Paramarta tentu melihat betapa besarnya peluang ekonomi pada sektor pertanian. Tentunya peluang tersebut menjadi kenyataan apabila potensi yang ada digarap dengan maksimal.

Sadar akan hal tersebut Widya Paramarta mencoba melakukan beberapa terobosan. Salah satu terobosannya adalah bertani beras hitam dan memproduksi produk turunannya yakni teh beras hitam.

“Teh beras hitam ini kami produksi sejak tahun 2017 lalu,” ungkapnya kepada awak media ini, Selasa (14/1).

Menurutnya, terobosan memproduksi teh beras merah ini dikarenakan berdasarkan riset sederhananya, ketika beras hitam diolah menjadi teh mampu melahirkan aroma dan rasa yang khas. Selain itu beras hitam juga mengandung banyak manfaat.

“Teh beras hitam adalah salah satu cara berbeda untuk menikmati beragam manfaat dari beras hitam,” jelasnya.

Untuk bahan baku imbuhnya, ia mengaku tidak kesulitan. Mengingat ia sendiri telah menanam padi beras hitam sejak beberapa tahun silam. Selain juga ketersediaan bahan baku dari para petani di Subak Bengkel yang mengikuti jejaknya menanam padi beras hitam.

Dikatakannya, memproduksi teh beras hitam ini tidaklah sulit. Sama halnya dengan memproduksi teh beras merah, dalam memproduksi teh beras hitam ini, beras hitam cukup disangrai secara tradisional dengan penggorengan yang terbuat dari tanah liat.

Diakuinya, hingga saat ini produksi teh beras merahnya masih terbilang sedikit, yakni sekitar dua puluh kilogram dalam setiap bulannya. Volume produksi tersebut terbagi menjadi lima kilogram setiap minggunya.

“Untuk menjaga cita rasa, teh beras hitam ini saya produksi setiap minggu dengan volume lima kilogram per sekali produksi. Teh beras hitam ini kami jual dengan kemasan yang isinya 250 gram,” terangnya.

Konsumen teh beras hitam ini diakuinya datang dari kelas menengah keatas. Pemasarannya sendiri disebutkannya juga tidak sulit.
Seperti melalui pameran-pameran, nitip di beberapa koperasi, pemasaran dari mulut ke mulut hingga dengan memanfaatkan media sosial.

“Sempat juga dibantu promosi oleh mahasiswa Undiksa melalui istagram atau juga bantuan promosi dari teman-teman yang terjun didunia kesehatan dan memahami manfaat teh beras hitam,” paparnya.

Yang jelas imbuh Widya Paramarta, hingga saat ini pemain teh beras hitam terbilang belum banyak. Sehingga baginya layak dikembangkan sebagai sumber ekonomi dan layak digencarkan karena mengandung banyak manfaat bagi kesehatan.

Terkait dengan teh beras hitam yang mengandung banyak manfaat kesehatan awak media ini kemudian menelusuri dunia maya. Memang, ternyata teh beras hitam disebutkan kaya manfaat. Seperti anti oksidan, baik untuk diet, baik dikonsumsi penderita diabetes, melindungi jantung, detoks hati, melancarkan pencernaan, meningkatkan ketajaman fungsi otak dan beragam manfaat lainnya. (Rls/BPN/rah)