Arnawa dan Duana dalam diskusi anti rokok
sewa motor matic murah dibali

Denpasar, balipuspanews. com – Desa pekraman akan segera mengeluarkan “pararem”atau aturan di desa adat soal pelarangan merokok pada saat “megebagan” atau begadang saat kematian.

” Kami sudah terus melakukan sosialisasi dengan Majelis Utama Desa Pekraman,  Majelis Madya dan Alit Desa Pekraman,  mereka sudah sepakat melakukan kajian serta mewujudkan pararem tidak merokok pada saat megebagan, ” kata I Made Gde Arnawa, pengurus PHDI bagain Sumber Daya Alam dan Lungkungan Hidup usai acara diskusi Center of Excellence for Tobacco Control and Lung Heallh (CTCLH) Universitas Udayana kegiatan temu media dan diskusi bersama dengan rekan-rekan media dalam upaya pengendalian bahaya rokok bagi kesehatan di Hotel Alantara Sanur, Jumat (4/8) malam.

Selaian larangan merokok,   para pemilik hajatan atau yang berduka dilarang menyediakan rokok yang merusak kesehatan.

“Bagi yang bawa rokok sendiri, boleh merokok tapi diluar areal, ” ujarnya.

Selain di wilayah “megebagan” dalam diskusi yang dihadiri Made Kerta Duana,  SKM,  MPH Ketua CTCLH Universitas Udayana, dr. I Gede Artawan Eka Putra,  M. Epid, Ketua Perhimpunan Ahli Epidemiologi Bali, dr. I Gede Wira Sunetra,  MPPM Mantan Kabid P2P DINKES provinsi Bali ini juga melarang melalukan giat di wilayah tempat suci.

“Dalam acara agama Hindu juga tertuang larangan yang tertuang dalam panca Me yakni memadat atau merokok, memadon,  memitra,  memaling ujarnya.

Soal kapan diterapkan,  pihaknya mengatakan segera.

” Kalau kami PHDI lebih cepat  lebuh baik,  tetapi semuanya butuh waktu karena jumlah adat di Bali sebanyak 1.300 desa perlu waktu panjang sosialisasi, ” jelasnya.

Ketua  Center of Excellence for Tobacco Control and Lung Heallh (CTCLH) Universitas Udayana, I Made Kerta Duana mengatakan diskusi ini untuk mencari upaya menekan pemakian rokok di daerah.

Sejumlah gerakan telah dilakukan mulai dari mengusulkan perda rokok,  pengurangan iklan rokok,  perarem dan lain sebagainya.

Termasuk saat ini memberikan pengertian akan bahaya pave atau rokok elektrik.

” Saat ini dari 400 toko vape,  masih sisa lagi 72, artinya sudah turun drastis, ” katanya.

Pihaknya terus sosialisasi soal salah kaprah menggunakan rokok elektrik.

“Bahayanya sama dengam rokok biasa, ” jelasnya

Disamping itu,  pihaknya juga gencar melalukan pendekatan dengan Kabupaten Bangli,  Buleleng, Badung, Tabanan dan Karangasem yang masih diwilyahnya ada iklan rokok.

“Iklan rokok ini akan berdampak bagi anak merokok, ” ujarnya.  (art/bpn/tim)

 

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar...