Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE, M.MA, MA,

DENPASAR, balipuspanews.com –
Berbicara mengenai Bali tentunya selalu dikaitkan dengan industri pariwisatanya yang telah berkembang sejak puluhan tahun silam.

Pertumbuhan industri ini nyatanya telah menimbulkan pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan sektor ekonomi dan industri lainnya di Pulau Dewata. Hanya saja, sebagai industri yang menggabungkan barang dan jasa, eksistensi pariwisata sangat bergantung pada keberadaan konsumen, yaitu wisatawan.

Tantangan selanjutnya adalah bagaimana meningkatkan kuantitas wisatawan ke Bali di tengah kompetisi industri pariwisata secara global. Menurut akademisi sekaligus praktisi pariwisata, Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE, M.MA, MA, pengembangan pariwisata berkelanjutan dapat menjadi solusi meningkatkan daya saing kepariwisataan Bali.

Menurut Gusti Rai Utama, pariwisata berkelanjutan atau sustainable tourism merupakan konsep pariwisata yang memperhitungkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan, tidak hanya untuk saat ini melainkan juga di masa depan.

Keberadaan kegiatan pariwisata tidak hanya memberikan keuntungan atau profit bagi investor, juga mensejahterakan masyarakat lokal. Serta tetap mempertahankan keanekaragaman hayati di suatu destinasi wisata dan melestarikan nilai-nilai warisan budaya masyarakat setempat.

Gusti Rai Utama yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas Dhyana Pura periode 2019-2024 ini optimis jika konsep pariwisata berkelanjutan dapat terealisasikan di Bali. Terbukti dengan adanya gerakan pembangunan pariwisata berkelanjutan di desa-desa wisata, baik yang diinisiasi oleh pemerintah maupun dilakukan secara swadaya oleh masyarakat. Gusti Rai Utama pun berkesempatan menjadi salah satu fasilitator dalam Program Pendampingan Desa Wisata yang diselenggarakan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

“Prinsip keberlanjutan yang diterapkan dalam program pendampingan desa wisata ini adalah mewujudkan idealisme ekonomi berbasis kerakyatan. Hal ini diimplementasikan dengan memberdayakan seluruh elemen di desa untuk menggerakkan pariwisata. Sebagai contoh, tidak diperlukan pembangunan akomodasi baru di desa wisata.

Rumah-rumah warga dapat dimanfaatkan sebagai homestay. Di satu sisi menjadi daya tarik bagi wisatawan sementara di sisi lain dapat memunculkan rasa kebanggaan terhadap masyarakat lokal karena mereka tidak hanya menjadi penonton melainkan telah berpartisipasi di industri pariwisata Bali,” ujar Gusti Rai Utama. (Denis/BPN/tim)