Penulis: Ida Ayu Maitry Sanjiwani, M.Psi., Psikolog
sewa motor matic murah dibali

LenteraJiwa, Balipuspanews.com – Pergaulan bebas saat ini sudah menjadi gaya hidup di lingkungan masyarakat, sehingga menikah karena hamil duluan bukanlah menjadi hal yang tabu lagi. Namun, seringkali pasangan muda ini tidak mengetahui gambaran jelas mengenai konsep pernikahan dan tanggungjawab sebagai orang tua.

Pernikahan harus didukung dari kesiapan finansial dan mental, ketika menikah pasangan tersebut sudah mempunyai tanggung jawab untuk hidup secara mandiri dan masuk ke sistem masyarakat sebagai orang dewasa. Ditambah lagi budaya Bali yang mengenal konsep menyame braya sehingga pasangan tersebut harus terjun ke adat meskipun masih muda. Kemampuan finansial yang tidak memadai, masih dalam usia sekolah serta emosi yang belum stabil akan memperburuk keadaan rumah tangga.

Permasalahan-permasalahan tersebut tentunya akan mempengaruhi kesiapan pasangan untuk menjadi orang tua. Ketika anak lahir, orang tuanya tidak mengetahui cara yang baik dalam mengasuh anak, padahal orang tua memilki peran utama dalam proses tumbuh kembang anak. Saat orang tua tidak mengetahui bagaimana mengasuh anak dengan tepat maka akan mempengaruhi berbagai aspek perkembangan anak yaitu aspek kognitif, sosioemosional, bahasa, dan motorik. Pola asuh yang baik menyebabkan anak memilki kemandirian, penyesuaian diri, tanggung jawab, kemampuan dalam mengambil keputusan, terbuka, percaya diri, optimisme, dan empati yang baik.
Menurun Baumrind (dalam Santrock, 2012) terdapat empat macam pola asuh yaitu demokratis, otoriter, permisif, dan neglect. Pola asuh demokratis ditandai dengan orang tua yang hangat dan mendorong anaknya agar mandiri, namun masih membatasi dan mengendalikan tindakan-tindakan anak sehingga orang tua memberikan kesempatan pada anak untuk berdiskusi.

Pola asuh otoriter ditandai dengan orang tua yang bersifat membatasi dan sangat mengekang anak. Orang tua menekan anak agar mengikuti semua keinginan mereka, jika anak tidak bersedia maka orang tua akan menggunakan kekerasan. Dalam pola asuh otoriter tidak adanya diskusi antara orang tua dan anak sehingga semuanya ditentukan oleh orang tua.

Pola asuh permisif ditandai dengan orang tua yang sangat terlibat dalam kehidupan anak, namun hanya hanya memberikan sedikit tuntutan. Orang tua yang menerapkan pola asuh permisif akan memanjakan serta membiarkan anaknya melakukan apapun yang diinginkan sehingga anak berharap agar keinginannya selalu dipenuhi.

Pola asuh neglect ditandai dengan orang tua yang tidak terlibat dalam kehidupan anak serta tidak menunjukkan dukungan ataupun kehangatan dan kurangnya kontrol dari orang tua. Hal ini biasanya terjadi pada orang tua yang tidak memiliki waktu bersama anaknya.

Pasangan muda dapat mencari informasi melalui internet atau mengikuti kelas-kelas parenting yang saat ini sudah mulai disediakan oleh para psikolog di Bali. Karena terdapat kecenderungan untuk mengulang pola asuh anak seperti pola asuh yang pernah didapatkan orang tuanya.

Pola asuh yang paling tepat untuk diterapkan adalah pola asuh demokratis karena dalam pola asuh ini terdapat keseimbangan antara penerapan aturan dan adanya kehangatan.

Pola asuh demokratis menyebabkan anak menjadi kompeten secara sosial, memiliki tanggungjawab dan mandiri. Jadi pasangan muda sebaiknya memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam menerapkan pola asuh demokratis ini agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

TINGGALKAN PESAN

Please enter your comment!
Please enter your name here