sewa motor matic murah dibali

SAWAN, balipuspanews.com —  Membaca pilihan politik generasi milenial di tahun politik 2018 dan 2019, menjadi topik perbincangan  hangat di kalangan tokoh partai politik. Tak terkecuali bagi sosok I Made Widiasa Pasputra.

 

 

 

Pria menjabat selaku Wakil Ketua DPD Golkar Buleleng bidang Media Massa dan Penggalangan Opini itu menyebut, keberadaan generasi milenial yang populasi cukup besar memiliki kekuatan tidak dapat diabaikan dalam perhelatan pemilihan umum (Pemilu) serentak.

 

 

Selain itu, Pasputra dipercaya sebagai Wakil Ketua Kampanye Daerah pemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin Kabuapten Buleleng itu pun mengaku menemukan tantangan tersendiri ketika turun untuk menggugah kesadaran kalangan anak muda untuk ikut dalam perhelatan politik, terutama pemilihan legeslatif (Pileg) dan pemilihan presiden (Pilpres) serentak pada April 2019 mendatang.

 

 

“Tantangannya lumayan berat, karena generasi ini (milenial) sangat berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka kan sangat mahir dalam penguasaan teknologi modern, berselancar di dunia maya (media sosial) melalui gadget (handpone). Tentang pilihan politik, mereka  pun mereka sudah cerdas. Boleh dibilang, sangat selektif dalam menyalurkan hak politiknya, lebih condong memilih figur ketimbang partai,” ungkap Pasputra, Sabtu (9/2).

 

 

Meski memilih figur, generasi milenial justru tidak mudah percaya, apalagi pada elite politik memiliki setumpuk kasus, khususnya kepada calon legeslatif (caleg) terjerat korupsi. Pun, kepada elite politik yang suka mempermainkan isu negatif di media sosial (medsos).

 

 

Nah, agar generasi milenial mau terlibat dalam kehidupan politik, diperlukan strategi khusus untuk menggaet generasi milenial ini.

 

Menurutnya, strategi itu tidak saja dengan melakukan pendekatan langsung. Penguasaan teknologi turut memberi andil untuk menggaet kaum remaja sebagai pemilih pemula berusia 17 sampai 25 tahun.

 

 

“Suka tidak suka, kita harus mampu mengimbangi perkembangan teknologi. Namanya juga jaman now (kekinian), paling tidak berusaha beradaptasi lah. Berinteraksi langsung di medsos, baik di facebook, fanspage, instagram, ataupun twitter, menyerap masukan, berbagi pengalaman sambil menyusupkan pendidikan politik kepada kaum muda,” katanya.

 

 

Menjadi persoalan, apakah generasi milenial konsisten dengan pilihan politiknya?

 

 

“Memang kita tak dipungkiri, generasi milenial haus dengan perubahan. Pilihan mereka terkadang berubah-ubah, namun mereka cukup komit menyalurkan hak politiknya. Kepada siapa? Ya, kepada figur atau partai yang menyentuh kepentingan dan aspirasi mereka sebagai generasi muda. Terpenting lagi, jangan tinggalkan catatan hitam ketika dukungan dan kekuasaan sudah diraih, karena generasi milenial merupakan pengawal perubahan masa depan bangsa,” tandasnya.

Tinggalkan Komentar...