Pecandu Narkoba di Desa Sangsit Dikenakan Sanksi Adat

Kedelapan pecandu narkoba yang mengikuti upacara sebagai wujud sanksi adat 
Kedelapan pecandu narkoba yang mengikuti upacara sebagai wujud sanksi adat 

BULELENG, balipuspanews.com – Desa Adat Sangsit Dauh Yeh, Kecamatan Sawan, Buleleng memberikan sanksi adat kepada warganya yang terlibat peredaran narkoba. Seperti Senin (9/5/2022), delapan Krama atau warga yang berstatus tersangka langsung diberikan “hukuman adat”.

Delapan Krama tersebut menjalani hukuman atau sanksi adat berupa upacara byakala atau byakaon (pembersihan diri) dihadapan adat yang berlangsung sejak sore hingga malam bertempat di Pura Desa Adat Sangsit Dauh Yeh.

Bendesa Adat Sangsit Dauh Yeh, Jro Wayan Wissara memaparkan bahwa upacara pembersihan diri tersebut diadakan sebagai sanksi adat bagi para pecandu narkoba khususnya wilayah di Desa Sangsit yang telah diatur didalam sebuah perarem atau aturan adat.

Perarem pangeling Nomor 3 tahun 2021 tersebut mengatur tentang penggunaan narkoba dan sejenisnya muncul karena adanya indikasi bahwa Desa Sangsit masuk ke dalam zona merah penyalahgunaan narkoba. Sehingga adanya perarem tersebut diharapkan bisa membantu menekan jumlah peredaran dan penyalahgunaan narkoba yang ada di Desa Sangsit.

Baca Juga :  Ratusan Atlet dari 14 Provinsi di Indonesia Ramaikan Kejuaraan Fin Swimming Antar Pelajar Klungkung Bali Open 2022

“Desa Adat kan memang memang memiliki kewajiban untuk ikut serta mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada di lingkup desa adat sesuai dengan konsep hukum adat. Jadi untuk mengantisipasi hal itu munculah pararem ini, hal itu sesuai dengan aturan Perda Nomor 4 tahun 2019 tentang desa adat yang diakui sebagai subyek hukum, betugas untuk menerapkan hukum adat,” ungkapnya.

Ditanya lebih rinci mengenai sanksi bagi Krama atau masyarakat yang melanggar pararem, nantinya akan memperoleh sanksi yang berbeda-beda sesuai dengan tingkatannya. Seperti bagi yang pertama kali melakukan kesalahan itu harus melakukan pencaruan eka sata.

Apabila melakukan kedua kalinya diberikan sanksi ditambah dengan melakukan pencaruan manca sata. Namun jika sampai tiga kali maka hukuman diperberat lagi dengan sanksi berupa pencaruan manca sata dan denda berupa 1 kg beras dikali dengan jumlah penduduk adat di Desa Sangsit.

Baca Juga :  Rangsang Generasi Muda Lestarikan Seni dan Budaya Desa Selat Gelar Festival 

“Kalau lebih dari tiga kali, kita akan serahkan kepada hukum positif. Bila mana perlu Kasepekang (dikeluarkan dari desa) sebab istilahnya karena sudah mencemari nama desa,” tegasnya.

Disisi lain, Kepala Desa Sangsit, Putu Arya Suyasa menyebutkan jika berdasarkan data yang ada jumlah warga menjadi pecandu narkoba di Desa Sangsit itu ada sekitar 50 orang warga dan dari semua itu sudah ada tiga warga telah ditangkap oleh pihak berwenang.

“Jadi jumlah pemakai yang pertama mungkin jumlahnya 50 ya, jadi dari 50 itu sudah 80 persen yang melaporkan diri termasuk 8 orang yang saat ini melakukan upacara mebyakala serta ada 20 pesen yang masih dicari kalo gak salah ada 3 orang yang dipenjarakan dari Desa Sangsit,” sebutnya.

Ia menambahkan bahwa pihak desa akan melaksanakan pengawasan kepada masyarakat yang telah diketahui sebagai pecandu narkoba melalui Petugas Intervensi Berbasis Masyarakat (IBM). Hal itu bertujuan untuk memastikan yang bersangkutan bisa sembuh dari penyakit kecanduan obat terlarang.

Baca Juga :  Kirab Merah Putih MBPS, Wagub: Dulu Melawan Penjajah, Kini Kemiskinan

“Di setiap banjar itu ada IBM. Mereka bertugas mengawasi warga yang mengalami kecanduan selayaknya bapak angkat,” imbuhnya.

Sementara itu, ditempat yang Kepala BNN Kabupaten Buleleng AKBP I Gede Astawa, S.H, M.H menyampaikan untuk di Kabupaten Buleleng hingga bulan Mei 2022 ada sekitar 265 orang pecandu narkoba yang sedang di rehabilitasi.

Dengan adanya pararem Ia pun mengapresiasi hal itu namun demikian untuk penerapan, pihaknya berharap jika bisa diterapkan di seluruh Desa Adat yang ada di Kabupaten Buleleng.

“Semoga ini berlanjut diikuti dengan desa-desa yang rawan, jangan sampai sudah rawan sekali baru bergerak, lebih baik baru sedikit ada penyalahgunaan narkoba udah kita buatkan pararem, sementara di Buleleng belum semua menerapkan pararem,” tutupnya.

Penulis : Nyoman Darma

Editor : Oka Suryawan