Terdakwa Dwi Rintoko langsung berpelukan dengan istrinya sambil menangis, setelah mendengar tuntutan jaksa di PN Denpasar
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Denpasar, balipuspanews.com – Dwi Rintoko (34), seorang buruh bangunan, langsung berpelukan dengan istrinya sambil menangis setelah jaksa menuntut terdakwa yang asal Jember, Jawa Timur itu dengan hukuman selama 5 tahun penjara.

Di hadapan majelis hakim Pengadilan Negeri Denpasar, Selasa, jaksa dalam amar tuntutannya menyatakan terdakwa Dwi Rintoko bersalah, yakni telah menjual pil koplo secara ilegal. Karenanya, jaksa menuntut agar terdakwa dijatuhi hukuman 5 tahun penjara, serta membayar uang denda sebesar Rp250 juta, subsider 3 bulan kurungan.

Jaksa I Kadek Wahyudi Ardika menjelaskan, terdakwa secara sah bersalah melakukan tindak pidana kesehatan, berupa dengan sengaja mengedarkan sediaan farmasi dengan tidak memiliki izin edar.

Hal itu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 197 juncto Pasal 106 ayat (1) UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan sesuai dakwaan pertama.

Atas perbuatannya itu, jaksa meminta kepada majelis hakim diketuai IGN Putra Atmaja yang mengadili dan memeriksa perkara ini, untuk menjatuhkan hukuman kepada terdakwa.

“Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Dwi Rintoko dengan pidana penjara selama 5 tahun dikurangi selama terdakwa dalam tahanan sementara. Selain itu juga pidana denda sebesar Rp 250 juta, subsider 3 bulan kurungan,” ujar Jaksa Wahyudi, menegaskan.

Mendengar tuntutan jaksa, terdakwa yang didampingi penasehat hukumnya Ketut Dody Arta Kariawan SH, langsung menangis. Bahkan isak tangisnya tidak dapat dibendung hingga ke luar ruang sidang dan dipeluk istrinya.

Pada kesempatan itu, terdakwa menyatakan akan mengajukan pembelaan atau pledoi.

Sesuai surat dakwaan, terdakwa ditangkap di kamar kosnya Jalan Pertanian No.8, Gang I Banjar Ambengan, Desa Pemogan, Denpasar Selatan, pada Kamis (5/10/2017) sekitar pukul 20.00 wita silam.

Saat itu petugas menemukan sejumlah barang bukti (BB) di antaranya, sebuah tas plastik warna hitam yang di dalamnya berisi 3.410 butir tablet obat keras golongan G warna putih dengan logo “Y” yang mengandung sediaan tramadol dan trihexyphenidyl, serta 1.940 butir tablet warna kuning dengan logo “Nova” yang di dalamnya mengandung sediaan dektrometorfan.

Selanjutnya dari hasil pemeriksaan dan intrograsi petugas, terdakwa mengaku mengedarkan tablet, namun tanpa memiliki izin untuk itu. Perbuatan itu dilakukan sejak Juli 2017. Untuk setiap tablet warna putih, terdakwa menjual dengan harga Rp2.500 atau mendapat untung Rp1.400 per butir.

Sedangkan untuk tablet warna putih, terdakwa menjual dengan harga Rp1.500 per butir atau untung Rp650 per butir.
Selain BB tablet tanpa izin, petugas juga mengamankan BB lain, seperti sejumlah catatan penjualan obat. (Jro)

Tinggalkan Komentar...