sewa motor matic murah dibali

SAWAN, balipuspanews.com — Sejumlah pedagang di pasar tradisional Desa Sudaji, Kecamatan Sawan, Buleleng tersulut emosi. Pasalnya, mereka tiba-tiba menerima surat pemberitahuan terkait kenaikan harga sewa lapak (kios) pasar yang dinaikkan seharga Rp 1.5 juta hingga 3 juta per tahunnya.

Kontan, para pedagang yang membaca surat itu emosi, lantaran keputusan kenaikan harga sewa lapak dinilai dibuat secara sepihak, bahkan harga itu tergolong mahal.

Nah, pedagang yang didominasi oleh kaum ibu-ibu ini pun bergegas menutup lapak dagangannya, lalu mesadu kepada Fajar Kurniawan seorang tokoh di desa Sudaji.

Luh Budiarti (56) selaku perwakilan pedagang mengaku sangat terkejut saat menerima surat pemberitahuan kenaikan tarif sewa kios yang dikirim oleh seorang pegawai unit pasar Desa Sudaji.

Dalam surat itu disebutkan, bagi pedagang yang memanfaatkan kios di dalam pasar dikenakan sewa tanah dan lapak desa adat pakraman Rp 3 juta per tahun. Sementara untuk pedagang daging Rp 1.5 juta per tahun di tambah dengan biaya retribusi Rp 2000 per harinya.  Kenaikan tarif sewa kios itu berlaku mula Kamis (10/2).

Keputusan itu pun telah ditandatangani oleh Putu Hartawan selaku Direktur Bumdes Sudaji, Gede Suardana Kepala Unit Pasar Desa Sudaji, I Komang Sudiarta selaki Perbekel Desa Sudaji, serta I Nyoman Sunuada selaku Kelian Desa Pakraman Sudaji.

“Kami sangat keberatan. Kami juga tidak pernah diundang oleh aparat desa untuk berdiskusi soal kenaikan tarif sewa ini. Tadi lagi jualan, tiba-tiba menerima surat pemberitahuan kenaikan tarif sewa itu, ya saya sangat terkejut. Kok tiba-tiba tarifnya naik, sementara kami tidak pernah diajak mepitungan,” keluh Budiarti, Rabu (6/2).

Pedagang asal Banjar Kaje Kangin, Desa Sudaji ini pun menyebutkan, dirinya berjualan daging babi dan ayam di pasar Desa Sudaji sejak 12 tahun silam. Selama itu, dirinya hanya membayar uang retribusi Rp 3 ribu per harinya, atau sekitar Rp 1 juta ribu per tahun, ditambah dengan biaya listrik Rp 10 ribu per bulan.

Dengan naiknya tarif sewa kios ini, Budiarti pun merasa sangat keberatan. Selain mahal, lokasi tempat ia bedagang juga terbilang sempit yakni hanya 1.5 meter.

“Tongos cenik, hargane mahal (tempatnya kecil, harganya mahal). Tidak sesuai lah. Sedangkan saya setiap hari tidak menentu dapat untung berapa. Kalau dagingnya habis, dapat Rp 60 ribu. Kalau dagingnya masih, sing maan ape (tidak dapat untung). Kami para pedagang berharap agar tarif sewa diturunkan lagi, sekitar Rp 500 tahun per tahun,” jelasnya.

Terpisah, Perbekel Desa Sudaji, I Nyoman I Komang Sudiarta dikonfirmasi melalui saluran telepon enggan berkomentar banyak.

“Ya kenaikan tarif ini memang sesuai dengan peruman dan atas sepengetahuan saya. Namun biar lebih pasti telepon Jero Bendesanya nggih,” singkatnya.

Sementara, I Nyoman Sunuada selaku Kelian Desa Pakraman Sudaji saat dikonfirmasi juga enggan membuka suara, dengan alasan sedang sibuk.

“Tiang lagi di Griya (Saya sedang di Griya) coba Ketua Bumdesnya telepon nggih,” kilahnya.

Sementara Direktur Bumdes Desa Sudaji, Putu Hartawan saat dihubungi belum mengangkat telepon sampai berita ini diturunkan.

Tinggalkan Komentar...