Pelaku Industri Pariwisata Mengaku Terbantu Stimulus Pemerintah dan Program CHSE

Dialog Publik yang diselenggarakan KPCPEN dan ditayangkan di FMB9ID_IKP, Rabu (23/6/2021). Dialog Publik yang diselenggarakan KPCPEN kali ini mengambil tema 'Optimisme Pariwisata di tengah Pandemi'. (Foto: KPCPEN)
Dialog Publik yang diselenggarakan KPCPEN dan ditayangkan di FMB9ID_IKP, Rabu (23/6/2021). Dialog Publik yang diselenggarakan KPCPEN kali ini mengambil tema 'Optimisme Pariwisata di tengah Pandemi'. (Foto: KPCPEN)

JAKARTA, balipuspanews.com – Pariwisata menjadi salah satu sektor yang paling terdampak pandemi. Maulana Yusran, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mengakui kondisi industri pariwisata saat ini lebih berat dari tahun 2020 sebelumnya.

Kendati demikian, Maulana Yusran menegaskan dalam kondisi terhimpit pandemi Covid-19 ini, upaya-upaya mempertahankan dan membangkitkan sektor ini terus dilakukan dengan tetap menjalan protokol kesehatan dan mengikuti kebijakan yang diberikan pemerintah.

“Kalau protokol kesehatan, kita di industri hotel dan restoran termasuk yang paling berkomitmen. Di awal Maret 2020 saja, kita sudah menyusun standar protokol kesehatan. Perubahannya sampai tiga kali menyesuaikan Surat Edaran Menteri Kesehatan dan standar WHO. Kami justru mendukung PPKM Mikro yang dijalankan saat ini,” ungkap Maulana Yusran dalam Dialog Publik yang ditayangkan FMB9ID_IKP, Rabu (23/6/2021).

Dialog Publik yang diselenggarakan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) ini mengambil tema ‘Optimisme Pariwisata di tengah Pandemi’.

Baca Juga :  Koalisi Parpol akan Terus Dinamis Saat Penentuan Capres-Cawapres

Dampak pandemi Covid-19 di sektor pariwisata menyasar ke semua lini baik perusahaan milik negara maupun industri yang dikelola pihak swasta.

Seperti yang dialami PT. Hotel Indonesia Natour (Persero) atau dikenal dengan sebutan HIN. BUMN yang bergerak di bidang jasa perhotelan tersebut harus merasakan turunnya tingkat hunian kamar hotel pada tahun 2020 lalu hingga 67% dari 2019.

“Tahun lalu tingkat hunian kita hanya sekitar 27% sepanjang tahun. Apalagi pendapatan kita 60- 70% dari Bali, dampak pandemi ini sangat luar biasa bagi industri perhotelan,” terang Christine Hutabarat, Direktur Pengembangan Bisnis PT. HIN.

Meski berat, pelaku industri pariwisata mulai beradaptasi dengan tuntutan keadaan dan mempersiapkan diri demi menghadapi era pasca pandemi melalui penguatan standar kebersihan, kesehatan, keamanan dan kelestarian lingkungan. Sertifikasi ini dikenal dengan nama CHSE (Cleanliness, Healthy, Safety, Environment Sustainability).

Baca Juga :  Ketua MPR RI: Sidang Tahunan MPR RI Esok Hari Digelar Berdasarkan Hasil Konvensi Ketatanegaraan

CHSE diyakini Christie bukan sekadar jargon, namun sudah jadi identitas dalam melakukan pelayanan di industri pariwisata. Sehingga nantinya bisa menumbuhkan kepercayaan masyarakat, sekaligus mengedukasi protokol kesehatan seperti yang dianjurkan pemerintah.

Selain upaya-upaya yang dilakukan melalui beradaptasi dengan keadaan, stimulus dari Kemenparekraf sejak 2020 berupa Hibah Pariwisata maupun bantuan lainnya diakui sangat membantu industri sektor pariwisata untuk bertahan.

“Stimulus dari pemerintah kami gunakan untuk beberapa hal, selain membantu membiayai operasional kami di masa permintaan yang rendah, juga membantu meningkatkan kualitas dari implementasi CHSE dan pelatihan tenaga kerja di HIN,” terang Christie.

Kondisi yang terjadi juga dirasakan pelaku industri pariwisata yang dikelola swasta. Bahkan, juga menyasar bisnis kreatif yang menjadi bagian dari ekosistem yang ada di lokasi pariwisata seperti di Bali.

Baca Juga :  Serahkan Achmad Bakrie Award, Puan Apresiasi Dedikasi Dokter Tanggulangi Covid-19

Seperti yang diungkap Cokorda Istri Juliyana Dewi, pebisnis kerajinan perak dan tas kulit Cyn dari Gianyar, Bali.

“Dampak pandemi ini sangat berimbas. Tapi kami tetap beradaptasi agar teman-teman pelaku industri kreatif di lokasi pariwisata bisa menyesuaikan karyanya dengan keadaan seperti sekarang ini,” ungkap Juliyana.

Kerajinan perak yang dulunya dipandang perhiasan saja, dengan sentuhan inovatifnya ia padukan dengan tas kulit sehingga memberi daya tarik dan diterima konsumen di masa pandemi ini. Juliyana mengakui bahwa stimulus dan upaya yang dilakukan pemerintah turut mendukungnya bertahan di tengah situasi sulit.

“Kami banyak tertolong oleh pemerintah yang sering mengadakan pelatihan pemasaran produk secara digital. Kita tentu harus terus beradaptasi dengan keadaan pandemi seperti saat ini. Terutama untuk membangkitkan kembali semangat pengrajin perak untuk melewati pandemi ini secara bersama,” tegas Juliyana.

Penulis : Hardianto

Editor : Oka Suryawan