Ketut Suwitama (kemeja putih) saat ditemui di Hotel Kinaara Pemuteran.
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Singaraja, balipuspanews.com — Sejumlah pelaku pariwisata di objek wisata Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng mengeluhkan keterbatasan infrastruktur penunjang sektor pariwisata di kawasan setempat.

Ketut Suwitama selaku manajer Hotel Kinaara Pemuteran dihadapan IP3 (Ikatan Pengusaha Pemuteran) mengungkapkan, objek wisata Pemuteran sejatinya memiliki prospek yang cerah di tahun-tahun mendatang. Kondisi itu merujuk pada trend pertumbuhan tingkat kunjungan dan penambahan kamar hotel selama lima tahun terakhir.

Namun begitu, peningkatan jumlah kunjungan tidak dibarengi dengan keseriusan dari pihak pemerintah kepada para pelaku wisata untuk meningkatkan kreatifitas dalam pemasaran objek wisata Pemuteran.

“Contohnya, penerangan jalan minim, jalan masih banyak rusak, tidak ada trotoar, drainase boleh dibilang dibuat asal-asalan hingga kawasan Pemuteran rentan banjir ketika musim hujan,” terang Suwitama, Senin (13/8) sore.

 

Selain itu, Suwitama menyebut objek wisata Pemuteran terkesan dianak tirikan oleh pihak pemerintah, meski objek wisata Pemuteran meraih sederet penghargaan.

Salah satu prestasi patut diacungi jempol, yakni saat objek wisata Pemuteran unjuk gigi dan berhasil menyabet penghargaann level dunia pada tahun 2016. Tepatnya, pada perayaan award ke-12 United Nation World Tourism Organization (UNWTO) bermarkas di Madrid, Spanyol.

Kala itu, badan UNWTO di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyelenggarakan penghargaan paling bergengsi di level dunia dengan sistem penjurian paling ketat.

Tanpa diduga, Yayasan Karang Lestari (Bali) melakukan kegiatan ‘Coral Reef Reborn’ Pemuteran, mewakili Indonesia dinobatkan sebagai juara kedua setelah Nepal.

“Bukannya kami ingin diprioritaskan, paling tidak diperhatikan, ya dibantu solusi menyempurnakan kekurangan sarana dan prasarana penunjang agar sektor pariwisata di Pemuteran bisa semakin berkembang dan maju. Apalagi, pemilik hotel di Pemuteran menyandang wajib pajak terbaik di Buleleng,” imbuhnya.

Para pelaku pariwisata di Pemuteran pun sempat berbesar hati, setelah Pemuteran dinobatkan sebagai juara kedua dalam ajang UNWTO.

Saat itu, pelaku pariwisata di Pemuteran pun diminta mengajukan proposal Rp 1 Miliar untuk pengembangan objek wisata dikenal memberikan keheningan dengan pesona laut natural kepada Kementerian Pariwisata melalui Dinas Pariwisata Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng.

Namun, pengajuan proposal kepada pemerintah pusat itupun akhirnya kandas di tengah jalan.

“Memanfaatkan tanah adat, para pelaku pariwisata di Pemuteran sepakat melakukan penambahan-penambahan sarana pendukung. Rencananya, membuat open stage di kawasan Tanjung Budaya merupakan Center of Pemuteran. Tapi, pengajuan proposalnya kandas. Proposal itu batal bukan ditolak, katanya disebabkan si kontraktor lambat mengajukan proposal. Begitu mungkin, alasan pastinya kami kurang jelas,” jelasnya.

Menurut dia, keberadaan open stage di Tanjung Budaya merupakan Center of Pemuteran dampaknya akan sangat dirasakan tidak hanya bagi warga Desa Pemuteran, bahkan berimbas kepada seluruh masyarakat Buleleng.

“Kami sudah rancang agar seluruh kesenian di Buleleng bisa dipentaskan di open stage Tanjung Budaya, namun proposal sudah kandas begini, sekarang hanya bisa pasrah,” katanya.

Kepasrahan Suwitama pun rupanya cukup beralasan, bersama sejumlah pelaku pariwisata di Pemuteran, ia sempat curhat kepada Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana terkait permasalahan-permasalahan di objek wisata Pemuteran.

“Sudah, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, bahkan sampai menghadap Bupati Buleleng langsung di rumah jabatan tahun 2017 lalu. Permasalahan banjir, trotoar, penerangan jalan minim hingga batalnya pembangunan open stage Tanjung Budaya semua sudah kami curhatin (sampaikan). Janjinya Bupati, ya okey, nanti kita ketemu dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida, nanti ketemu ini dan itu, tapi ujung-ujungnya nggak ada realisasi apapun. Ya, sampai sekarang ini,” ungkapnya.

Suwitama pun tetap berharap, pemerintah tidak tutup mata terhadap sejumlah permasalahan di objek wisata Pemuteran.

Pantauan di lokasi, memasuki liburan high season pada musim ini (bulan Agustus- September) yang merupakan musim liburan wisatawan luar negeri, kawasan objek wisata Pemuteran diserbu turis eropa.

Sebelumnya, kunjungan wisatawan domestik pun cukup membludak lantaran bertepatan dengan libur sekolah bulan Juni-Juli, libur nasional seperti libur Lebaran, libur Imlek, libur Natal dan libur long weekend.

Advertisement

Tinggalkan Komentar...