Pelaku Usaha Bali Didorongkan Kembangkan Digitalisasi Produk

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo saat mengunjungi Wayan Sunarta (Surya), owner Restoran Mano di Seminyak, Kuta, Minggu (2/8/2020).
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo saat mengunjungi Wayan Sunarta (Surya), owner Restoran Mano di Seminyak, Kuta, Minggu (2/8/2020).

KUTA, balipuspanews.com – Masih tumbuhnya produk barang dan jasa masyarakat Bali ke luar negeri menunjukkan bahwa sebenarnya Bali tidak dilupakan masyarakat internasional.

Oleh karena itu, kesiapan pelaku ekonomi di Bali dituntut untuk luwes, kreatif dan inovatif untuk mengembangkan usahanya antara lain digitalisasi ekonomi produk barang dan jasa.

“Ini menjadi peluang dan pertanda bagi para pelaku usaha kerajinan untuk mendigitalisasi usaha mereka guna memperluas pangsa pasar ekspor,” ucap Ketua MPR RI Bambang Soesatyo saat mengunjungi Wayan Sunarta (Surya), owner Restoran Mano di Seminyak, Kuta, Minggu (2/8/2020).

Bamsoet mencontoh ketika industri pariwisata terpuruk sehingga wisatawan mancanegara belum bisa berlibur ke Bali, tetapi turis asing masih bisa berbelanja barang kerajinan dari Bali secara online.

“Sehingga pengusaha kerajinan tak hanya mengandalkan berjualan secara konvensional dengan memajang hasil usaha di pinggir jalan saja,” kata Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini.

Menurutnya, membangkitkan ekonomi berbasis pariwisata di tengah situasi pandemi Covid-19 bukanlah pekerjaan mudah. Sebab masyarakat masih takut terpapar virus corona, namun di sisi lain wisatawan juga rindu ingin menikmati indahnya berwisata.

“Disinilah tantangannya bagi Bali untuk mendapatkan kepercayaan publik. Bali harus menunjukan keseriusan menekan penyebaran Covid-19. Selain mengandalkan keramahan, Bali juga harus menerapkan konsep bersih, sehat, aman dan ramah lingkungan. Karenanya, dari mulai masyarakat, pelaku industri, hingga pemerintah daerah harus satu irama,” tegas Bamsoet dalam keterangan tertulisnya.

Mantan Ketua DPR RI menerangkan pertumbuhan ekonomi Bali di triwulan I-2020 minus 1,14 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Akomodasi makanan dan minuman mengalami dampak yang buruk dengan minus 9,11 persen, industri pengolahan minus 7,95 persen, transportasi pergudangan minus 6,21 persen, konsumsi Lembaga Non Profit yang melayani Rumah Tangga (LNPRT) minus 4,67. Hanya ekspor luar negeri yang masih tetap tumbuh positif 21,87 persen.

Sebagai pengusaha, ia memahami pergulatan yang dialami para pengusaha utamanya di Bali. Setelah dibolehkan beroperasi mulai 9 Juli 2020 untuk warga lokal Bali, kemudian mulai dibuka untuk turis domestik sejak 31 Juli, perlahan tamu mulai berdatangan ke berbagai pusat ekonomi.

“Pemasukan sudah didapat secara bertahap dari 15 persen di awal Juli menjadi 20 persen di akhir Juli. Sehingga tak perlu melakukan pemutusan hubungan kerja,” saran Bamsoet.

Penulis/Editor : Hardianto/Oka Suryawan