Komisi II DPRD Bali, IGK Kresna saat turun ke Sumberkima, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng.

GEROKGAK, balipuspanews.com — Persaingan tidak sehat sejumlah pelaku usaha transportasi di Pulau Menjangan memantik persoalan. Kini, para pelaku usaha itupun mulai khawatir usahanya terancam gulung tikar. Pasalnya, standar tarif dan tiket masuk untuk trip (perjalanan) ke Pulau Menjangan konon dimonopoli oleh Taman Nasional Bali Barat (TNBB).

Keluhan para pelaku usaha tersebut membuat Komisi II DPRD Bali, IGK Kresna Budi langsung turun ke lokasi. Hasilnya, Kresna Budi pun menemukan sejumlah keganjilan.

IGK Kresna Budi saat kunjungan menyarankan kepada pihak yang berkepentingan dengan objek wisata Pulau Menjangan duduk satu meja mencari solusi.

“Jangan sampai ada ketimpangan karena akan berdampak pada pariwisata Bali khususnya Buleleng.TNBB bersama Pokmas yang ada bertemu agar ada singkronisasi dan bila perlu kami dari dewan yang akan memfasilitasi, jangan sampai ada masalah dilapangan,” katanya.

Kresna Budi menyoroti retribusi nol (kosong) kedaerah dari tarif angkutan yang ditetapkan TNBB sebesar Rp 200 ribu per orang. Menurutnya, setidaknya TNBB membantu peningkatan PAD dari sektor pariwisata yang di kelola TNBB.

“Paling tidak ada kontribusi ke daerah untuk meningkatkan taraf hidup para nelayan yang ada disekitar kawasan yang dikelola TNBB,” tegasnya.

Masih kata dia, TNBB sepertinya hanya melakukan eksploitasi untuk kepentingan daerah lain. Seharusnnya ada kontribusi yang dikembalikan kedaerah untuk kesejahteraan masyarakat sekitar.

“Kami dari Komisi II berjanji akan turun ke daerah ini dengan agenda melakukan mediasi antar masyarakat pengelola transportasi ke Pulau Menjangan dan soal retribusi dari tiket masuk oleh TNBB,” ujarnya.

Sementara, Ketut Sweden selaku Sekretaris Kelompok Nelayan Banyumandi, Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak, mengeluhkan kondisi tidak sehat akibat persaingan usaha dipicu oleh adanya ketidak konsistenan pengaturan oleh pihak TNBB.

Selama ini, sebut Sweden, pihak TNBB menunjuk beberapa pelabuhan resmi untuk tempat penyeberangan bagi wisatawan yang hendak mengeksplorasi keindahan kawasan Pulau Menjangan. Sejumlah pelabuhan tersebut diatur penjualan tiket resmi dengan tarif resmi. Termasuk ongkos trip paket dengan kegiatan diving dan lainnya sebesar Rp 750 ribu.

“Selain Pelabuhan di Teluk Menjangan yang kami kelola (Kelompok Nelayan Banyumandi), pelabuhan Labuan Lalang, Sumberklampok, pelabuhan yang dikelola Pokmasta Teluk Terima Sumberkima, merupakan pelabuhan yang ditetapkan TNBB untuk tempat penyeberangan wisatawan ke Pulau Menjangan dengan harga tiket masuk Rp 200 ribu,” ungkap Sweden.

Menurutnya, jika ditotal paket perjalanan ke Pulau menjangan dengan kegiatan penyelaman dikenakan tarif Rp 750 ribu.

“Itu tarif yang berlaku selama ini,” imbuhnya.

Hanya saja belakangan ada pihak lain yang memberlakukan tarif jauh dibawah harga tersebut kepada wisatawan.Tarifnya dikisaran Rp 300 ribu dengan trip yang sama dan bukan dari pelabuhan resmi.

“Wisatawan ditarik ongkos lebih murah jika naik dari kawasan Pemuteran dengan selisih harga cukup jauh namun jarak waktu tempuh nyaris sama sekitar 30 menit. Termasuk boat yang digunakan dengan dua mesin,” terangnya.

Serupa disampikan Ketua Pengusaha Kelompok Nelayan Banyumandi Made Lasma, pengusaha di pelabuhan resmi yang ditetapkan terancam gulung tikar.

“Kami harap ini ditertibkan, dan kami tawarkan solusi agar pembelian tiket tidak lagi dilakukan di pos pemberangkatan namun ditempat tujuan yakni Pulau Menjangan,” singkatnya.