Pemanfaatan Lahan Non Produktif Di Desa Jinengdalem, Pakai Aplikasi Dalam Proses Penyiraman

Lahan yang sebelumnya tidak produktif sekarang sudah ditanami tanaman yang bermanfaat untuk keseharian warga
Lahan yang sebelumnya tidak produktif sekarang sudah ditanami tanaman yang bermanfaat untuk keseharian warga

BULELENG, balipuspanews.com – Kreativitas warga di Desa Jinengdalem untuk mengelola lahan Non produktif menjadi lahan produktif didukung dengan penggunaan teknologi canggih berupa proses penyiraman sebelumnya menggunakan ember kini bisa dilakukan dengan perintah otomatis menggunakan bluetooth.

Ide tersebut dilakukan oleh warga yang tergabung di dalam “Komonitas Pemanfaatan Lahan Non Produktif” yang kegiatannya bergotong-royong memanfaatkan lahan-lahan kosong yang ada di sekitar lingkungan mereka untuk dijadikan kebun, seperti yang dilakukan diatas lahan seluas 23 are terletak di dusun Dalem, desa Jinengdalem dengan ditanami bermacam sayuran, buah-buahan, dan bunga.

Kepala Desa Jinengdalem Ketut Mas Budarma menjelaskan bahwa ide pemanfaatan lahan-lahan tak produktif sebagai mengupayakan agar bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga dari anggota kelompok, kemudian juga lahan di Desa Jinengdalem sebelumnya banyak yang kurang produktif, akhirnya pihaknya bekerja sama dengan pemilik lahan agar bisa dimanfaatkan. Setelah mendapatkan ide tersebut pihaknya mendapat bantuan dari Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Buleleng, tak hanya batuan tersebut, akan tetapi dengan antusias warga sampai ada juga yang beradal dari swadaya masyarakat setempat.

“ sementara kami mencoba dulu disini dengan bekerja sama dengan pemilik lahan, hasilnya kita kasih ke anggota dulu. Jumlah kelompok ada sekitar 15 orang” paparnya.

Lebih jauh kedepan pihaknya memiliki rencana memperluas lahan, agar hasilnya bisa lebih banyak dan pemasarannya bisa diperluas lagi dengan menjual ke pasar-pasar yang ada di desa Jinengdalem. Sehingga nanti dengan adanya lahan yang dimanfaatkan, pihaknya berharap bisa menjadikan pilot projek untuk warga lain yang mempunyai lahan tak produktif untuk bersedia lahannya digunakan untuk kegiatan-kegiatan positif di tengah pandemi Covid-19.

“sementara kami buat dilahan seluas 23 are mudah-mudahan ini bisa menjadi contoh. Selain itu bisa membuka lapangan kerja, karena banyak warga kami yang bekerja di sektor pariwisata dirumahkan“imbuhnya.

Meski baru memulai, kegiatan pemanfaatan lahan ini sudah didukung dengan teknologi yang dibuat oleh salah seorang mahasiswa dari salah satu universitas ternama di Bali Utara. Dengan adanya alat tersebut bisa mempermudah dalam melakukan perawatan tanaman dengan aplikasi.

Jadi, aplikasi ini bisa berfungsi dengan cara menggunakan perintah suara melalui handphone.
Aplikasi ini mengirim perintah ke peralatan yang terpasang di lahan perkebunan. Secara otomatis, alat tersebut menyiram tanaman melalui instalasi air yang telah terpasang.

“Dengan sedikit inovasi biar kita menyiramnya tidak pakai ember atau sejenisnya, jadi dengan aplikasi kita lebih mudah hanya dengan perintah suara” jelas pembuat instalasi siram tanaman otomatis, Gede Hendi yang saat ini berada di semester lima.

Lanjutnya menerangkan jika instalasi yang dirinya buat baru menggunakan sistem bluetooth jadi hal tersebut masih memiliki kekurangan mulai dari suara yang diterima kadang mengalami gangguan serta jaraknya hanya maksimal 10 meter, akan tetapi untuk kedepan dengan didukung oleh pihak desa akan mencoba menggunakan system SMS untuk lebih memastikan ketepatan waktu dan jarak yang bisa digunakan.

” Sistemnya aplikasi kita tinggal download saja. Nanti instalasi kita yang buat. Mudah-mudahan kedepan bisa menggunakan SMS jadi bisa lebih baik. Ini baru uji coba, nanti kedepan kita perbaiki lagi ”terangnya.

Disisi lain, Kepala Bidang Penataan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng Cok Adithya W.P. menyampaikan jika sebelumnya di desa Jinengdalem merupakan tempat yang non produktif dan sering dijadikan tempat pembuangan sampah oleh oknum masyarakat yang tidak bertanggung jawab.

Sehingga sampah di desa Jinengdalem bisa menghasilkan sebanyak 3 ton perhari. Sekarang dengan diberdayakannya lahan tersebut didukung dengan cara pengelolalan yang sudah diarahkan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng sampah-sampah ini kedepan bisa dikelola sebagai ezo enzim atau di bawa ke bank sampah.

“ jadi dengan dibuatkan lahan non produktif ini sampah bisa diberdayakan. Jadi kami mengedukasi warga melalui ke pihak desa, yang biasanya sampah yang dibuang ke kebun bisa dimanfaatkan sebagai ezo enzim. Dan sampah non organic kita edukasi untuk dibawa ke bank sampah”tutupnya.

Penulis : Nyoman Darma

Editor : Oka