Sabtu, Juli 20, 2024
BerandaNasionalJakartaPembimas Harus Berkontribusi Tingkatkan Lulusan Sarjana Hindu

Pembimas Harus Berkontribusi Tingkatkan Lulusan Sarjana Hindu

JAKARTA, balipuspanews.com- Sebagai garda terdepan dalam membina dan melayani umat, peran pembimas dinilai memiliki peran sentral dalam mencetak dan meningkatkan jumlah lulusan sarjana Hindu.

Selain itu, pembimas juga dituntut kemampuannya memfungsikan dan mensinergikan seluruh komponen organisasi keumatan dalam satu sistem baik, juga dituntut kemampuannya menggerakan potensi umat baik dari sisi ekonomi, politik,  sosial budaya (seni) serta potensi lainnya.

Persoalan tersebut mengemuka dalam Seminar Online ke-21 yang diadakan STAH Dharma Nusantara Jakarta, Senin (3/8/2020).

Seminar kali ini mengambil tema “Pelayanan Dan Pembinaan Umat  Hindu Indonesia” dengan menampilkan tiga narasumber yaitu Wayan Slamet, S.Pd (Pembimas  Hindu  Kanwil Kemenag Kalimantan  Barat), Drs. Simon Kendek Paranta (Pembimas Hindu Kanwil Kemenag  Sulawesi Selatan) dan Drs. Mercedes (Pembimas Hindu Kanwil Kemenag  Kalimantan  Selatan).

Selain itu, seminar juga menghadirkan pembahas yaitu Pelaksana Tugas (Plt) Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu (Dirjen Bimas Hindu) Kementerian Agama RI, I Made Sutresna, S.Ag., MA. Kemudian, Direktur Pendidikan Hindu Kemenag RI Drs. I Wayan Budha M.Pd serta Cendikiawan Hindu I Made Suparta.

Seminar dimoderatori Putu Jaya Adnyana Widhita, S.Si, S.Pd.H. M.Si., MA (Alumni dan Dosen STAH Dharma Nusantara  Jakarta). Selanjutnya seminar ditutup oleh Ketua Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) STAH DNJ, I Made Awanita, S.Ag., M.Pd.

Plt Dirjen Bimas Hindu, I Made Sutresna mengatakan berdasar kacamata umat di daerah, pembinas merupakan tim sukses dalam pembinaan umat. Karena pembimas lah yang tau persis, berapa jumlah umat di wilayahnya, fasilitas apa saja yang dimiliki, termasuk juga kelebihan dan kelemahan yang dimiliki.

BACA :  Hikmah Peristiwa Penembakan Donald Trump Ajarkan Pentingnya Upaya Rekonsiliasi Nasional

“Tapi tidak usah ragu, bahwa kita ada kelemahan. Karena yang menjadi probelum sesungguhnya adalah bagaimana menambal kelemahan ini dalam kebersamaan,” ucap Made Sutresna.

Untuk itu, ia menekankan bahwa komunikasi dan koordinasi antara seluruh komponen organisasi baik lembaga parisada, WHDI,  peradah, prajaniti dan semua komponen lainnya harus terjalin baik.

“Tujuan kita adalah kebersamaan, kita di pusat akan membantu yang perlu dibantu untuk kemandirian umat,” imbuh Sutresna.

Direktur Pendidikan Hindu, I Wayan Budha menambahkan kemajuan umat sangat berkaitan dengan pembinaan umat. Maka peran pembimas sangatlah strategis.

Ia mencontoh terkait kaderisasi. Kehadiran pembimas dalam seminar ini sengaja dihadirkan karena pembimas merupakan bagian dari pengelola pendidikan meskipun ada Direktorat Pendidikan Hindu di Kemenag RI.

“SDM yang dicetak embrionya ada di pasraman, tetapi kami mengharapkan pembimas juga ikut andil untuk melanjutkan SDM unggul ke STAH maupun ke seluruh perguruan tinggi yang ada di Indonesia,” ucap Wayan Budha.

Saat ini, menurut Budha ada 9 perguruan tinggi swasta dan 4 perguruan tinggi negeri. Ia berharap daerah-daerah yang belum memiliki kampus keagamaan Hindu, para generasi mudanya tetap memiliki kesempatan memperoleh ilmu poengetahuan agamanya melalui proses pembinaan di lembaga pendidikan tinggi.

BACA :  Menko PMK : Masa Depan Bangsa Indonesia Ditentukan Anak-anak

Sementara tiga pembimas selaku nara sumber mengemukakan persoalan keumatan yang hampir sama di wilayahnya masing-masing yaitu kondisi geografis yang letaknya berjauhan, keterbatasan ekonomi atau finansial terutama minimnya anggaran yang ada sehingga sulit membangun berbagai fasilitas, sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan keagamaan, serta kemandirian umat yang masih perlu mendapat sokongan dari pusat.

“Kami pembinas tidak bisa bekerja sendirian harus bekerjasama dengan semua pihak. Misalnya untuk mengidentifikasi berbagai masalah baik sosial budaya, juga masalah pendidikan di tengah masyarakat,” ucap Mercedes, Pembimas Hindu dari Kalimantan Selatan.

Pembimas dari Sulawesi Selatan, Simon Kendek Paranta menekankan masalah strategi keutaman di wilayahnya, terutama dari aspek ekonomi.

“Penting bagaimana strategi mengembangkan ekonomi keumatan. Nah, kita kembangkan strategi keumatan secara bersama-sama.
Kita bentuk kelompok ekonomi. Tapi  masalahnya hasil produk meraka tidak tersalurkan kemana arahnya. Misal tenun yang menjadi produk asli. Dibuatnya agak lama, akibatnya harganya dihargai mahal membuat masyarakat di sekitar tidak terjangkau jika membelinya,” ungkap Simon.

Hal lain yang juga ditekankan adalah kurangnya kemandirian umat di wilayahnya. Lembaga keagaamaan di wilayahnya, tidak akan bergerak kalau tidak didorong dari direktorat di pusat. “Jadi mereka baru mau bergerak setelah menerima atau mendapat sesuatu. Tidak ada kemandirian lembaga dalam melayani kebutuhannya sendiri,” keluhnya.

BACA :  Bentengi Diri dari Tantangan Globalisasi dan Dinamika Politik dengan 4 Pilar MPR RI

Pembimas dari Kalimantan Barat, Wayan Slamet mengungkapkan minimnya guru dan pengajar sebagai tenaga pendidik. begitu juga dengan kuantitas peserta didik yang memang minim di daerahnya.

Saat ini, kata Slmaet, pihaknya belum dapat menyelenggarakan sekolah secara formal untuk kegiatan pendidikan keagamaan. Sehingga kegiatan pendidikan keagamaan baru sebatas di pasraman dengan yang dilaksanakan secara reguler tiap hari minggu.

“Untuk pendidikan formal belum dapat kita lakukan karena kita melihat dari jumlah siswa. Untuk pendidikan formal dalam bentuk sekolah minggu. Sebab kalau kita bentuk untuk satu tahun ajaran, maka tahun berikutnya siswanya habis. Ini yang jadi kendala kita. Jadi yang baru bisa kita lakukan baru sebatas pasraman sekolah minggu,” ungkapnya.

Keterbatasan guru dan tenaga pengajar juga menjadi kendala. Ketiadaan guru yang berkualitas membuat format pendidikan seolah tampak monoton. Ini karena minimnya tenaga guru di daerahnya.

“Guru-guru yang di droping dari Bali begitu menjadi PNS, mereka kembali lagi pulang ke Bali. Olah karena itu, kami harapkan para lulusan sarjana pendidikan agama dari Kalbar, terutama putra asli daerah dapat mengabdi di daerahnya masing-masing setelah selesai mengenyam pendidikan di Jakarta,” kata Slamet berharap.

Penulis/Editor : Hardianto

RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -

Most Popular