Patdono Suwignjo, Direktorat Jenderal Pendidikan Vocasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menghadiri forum Tetra Helik di Kampus Politeknik Negeri Bali
Patdono Suwignjo, Direktorat Jenderal Pendidikan Vocasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menghadiri forum Tetra Helik di Kampus Politeknik Negeri Bali

DENPASAR, balipuspanews.com- Tidak seimbangnya kompetensi lulusan universitas di Indonesia dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri menyebabkan jumlah pengangguran berstatus sarjana selalu meningkat setiap tahun. Lulusan universitas lebih banyak melahirkan calon peneliti bukan tenaga terampil yang siap pakai.

“ Problem utama ketenagakerjaan di Indonesia tidak ngelinknya antara lulusan dengan kebutuhan tenaga kerja. Sehingga banyak terjadi sarjana yang menaganggur,” kata Patdono Suwignjo, Direktorat Jenderal Pendidikan Vocasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia disela menghadiri forum Tetra Helik di Kampus Politeknik Negeri Bali, Jumat(17/1/2020)

Melihat fenomena tersebut, pemerintah Indonesia kini fokus terhadap pengembangan pendidikan vocasi, agar lulusan langsung memperoleh pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikannya dan terserap di dunia industri.

Dikatakan Patdono, jumlah pendiidkan vocasi di Indonesia baru sekitar 9,1 persen dibandingkan dengan jumlah universitas yang ada sekarang.

Padahal sekarang ini, industri banyak membutuhkan tenaga terampil. Sekitar 90 persen tenaga terampil dibutuhkan disebuah industri, sedangkan kebutuhan tenaga peneliti disebuah industri hanya menyerap sekitar 10 persen tenaga peneliti.

Untuk itu, pemerintah pusat telah melakukan berbagai upaya agar semakin banyak perguruan tinggi membuat program studi atau mendirikan kampus pendidikan vocasi.

“ Pemerintah tidak akan mengijinkan pembangunan Universitas baru lagi, kalau bukan kampus pendidikan vocasi” jelasnya.

Pada pendidikan vocasi untuk D3 misalnya, mahasiswa akan belajar 1,5 tahun belajar di kelas dan 1,5 tahun di lapangan. Dengan demikian, para mahasiswa akan lebih paham dan mudah menyerap ilmu, karena setelah belajar di kelas teori yang didapatkan akan diparaktekkan di tempat magang atau industri.

Dengan demikian, para lulusan pendidikan vocasi cenderung lebih terampil dan siap bekerja dibandingkan mereka yang tamat dari universitas yang melahirkan peneliti.(bud/tim/bpn)