sewa motor matic murah dibali

SINGARAJA, balipuspanews.com — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng melalui Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Buleleng terus melakukan pemetaan terhadap seni dan budaya yang asli berasal dari Kabupaten Buleleng. Ini dilakukan mengingat banyaknya seni budaya khas Buleleng yang harus dilestarikan.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Disbud Kabupaten Buleleng, drs. Gde Komang, M.Si saat ditemui di sela-sela penyelenggaraan Workshop Tari Legong Pangeleb dan Tari Legong Tombol di Wantilan Sasana Budaya, Kamis (8/8).

Gde Komang menjelaskan Buleleng sebenarnya sangat kaya akan seni dan budaya. Oleh sebab itu, tugas dari seluruh pihak untuk menggali seni dan budaya tersebut sehingga kita tidak perlu meniru seni budaya daerah lain. Bahkan maestro seni dari Buleleng, Made Keranca sering kali menyebut seni budaya Buleleng harus terus digali dan dilestarikan.

 

“Bilamana perlu apa yang sudah diwariskan oleh para leluhur digali dan direkonstruksi mumpung masih ada tokoh-tokoh seniman baik itu penarinya ataupun penabuhnya,” jelasnya.

Guna melakukan penggalian, rekonstruksi dan juga pelestarian, pihak Disbud sendiri sudah terus melakukan pemetaan. Setelah melakukan pemetaan selanjutnya dilakukan penggalian sekaligus rekonstruksi. Hasil dari kegiatan tersebut bisa digunakan sebagai pakem-pakem atau patokan dari kelompok seni dan sanggar-sanggar yang ada di Kabupaten Buleleng.

 

“Oleh karena itu kita akan berikan CD semacam rekaman yang akan dijadikan pakem atau patokan bagi sanggar-sanggar yang ada,” ujar Kadis Gde Komang.

Gde Komang pun mengungkapkan kesakralan tarian dari Kabupaten Buleleng juga menjadi perhatian dari Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Bahkan salah satu akademisinya menanyakan kesakralan tersebut dan berniat untuk membantu Disbud dalam penggalian dan pelestarian. “Penggalian yang dilakukan melibatkan ISI Denpasar dan juga Pemkab Buleleng melalui Disbud,” ungkapnya.

Disinggung mengenai Legong Pangeleb, mantan Kepala Dinas Sosial ini menyebut tarian itu memiliki banyak makna. Pada sejarahnya, Tari Legong Pangeleb melambangkan kebebasan bagi wanita sekitar tahun 1950an. Kebebasan tersebut sebagi salah satu bentuk emansipasi wanita yang digaungkan oleh RA Kartini dan Dewi Sartika. Sehingga dengan melambangkan kebebasan, Tari Legong Pangeleb menggambarkan suka cita yang luar biasa.

 

“Sampai ada gerakan loncat-loncat yang melambangkan kebahagiaan wanita karena sudah diberikan kebebasan berteman dan bergaul sesame wanita dan juga pria,” tandasnya.

Untuk diketahui, serangkaian Buleleng Festival VII tahun 2019 digelar Workshop Tari Legong Pangeleb yang berasal dari dangin enjung dan Tari Legong Tombol dari dauh enjung. Narasumber yang dihadirkan yaitu Made Keranca, maestro seni asal Desa Jagaraga yang merekonstruksi Tari Legong Pangeleb dan Dr. Ida Ayu Wimba Ruspawati, SST., M.Sn, akademisi ISI Denpasar yang merekonstruksi Tari Legong Tombol.