Kursi dewan
Kursi dewan
sewa motor matic murah dibali

MANGGIS,balipuspanews.com- Desa Adat Angantelu, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem yang menaungi dua desa dinas, yakni Antiga dan Antiga Kelod terdiri dari 10 banjar, sehingga daftar pemilih tetap (DPT) di desa yang berbatasan dengan sisi timur Kabupaten Klungkung ini tergolong gemuk, lebih dari 10 ribu suara.

Di atas kertas, Angantelu mestinya dengan mudah meloloskan dua wakil di kursi DPRD Kabupaten dan satu kursi DPRD provinsi setiap kali perhelatan pemilihan legislatif digelar lima tahun sekali. Namun sayang, suara melimpah itu tak pernah membuahkan hasil, contohnya pada Pemilu 17 April 2019 lalu, Angantelu kembali mengakhiri pesta demokrasi tanpa wakil.

Mantan kelian di salah satu banjar yang enggan namanya disebut membeberkan sejumlah penyebab desa ini tak pernah meloloskan calon legislatif (Caleg).

Pertama menurut dia, Angantelu kekurangan figur berpengaruh sebagai caleg. Kedua, kekompakan masyarakat masih minim, ketiga sebagian besar masyarakat masih mengharapkan imbalan tertentu alias ‘wani piro’ dari para caleg saat kampanye.

Dirinya menduga, sikap politik sebagian besar Krama Angantelu ini dipengaruhi oleh trauma masa lalu.

“Sebetulnya Desa Angantelu atau Antiga (sebelum pemekaran) pernah memiliki anggota dewan di kabupaten lewat Pileg 1999. Krama cukup kompak kala itu. Tapi setelah jadi legislator, sosok itu seolah lupa dengan pengorbanan krama yang memilihnya, makanya warga kecewa, mungkin sampai saat ini masih terasa,” ubgkapnya..

Alasan yang diungkap sumber itu cukup beralasan karena pasca Pileg 1999 hingga saat ini, Desa Adat Angantelu tak pernah lagi meloloskan legislator. Berbeda dengan tetangganya Desa Adat Gegelang yang sukses merebut satu kursi DPRD Kabupaten Karangasem pada Pileg 2014 silam.

Kondisi ini dimanfaatkan betul oleh caleg dari luar Desa Angantelu yang tergabung dalam daerah pemilihan (Dapil) Manggis. Puluhan calon wakil rakyat seolah berlomba memenangkan hati pemilih dengan strategi masing-masing tiap menjelang Pileg.

“Trauma yang saya sebut tadi menyebabkan warga lebih memilih caleg dari luar, ‘apang sepalanan’. Mungkin itu prinsip mereka,” tandasnya. (bud/bpn/tim).