Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Singaraja, balipuspanews.com — Pemkab Buleleng melalui Dinas Pertanian tengah mencoba untuk membudidayakan talas kuning untuk dijadikan salah satu komoditi bahan pangan pokok di Kabupaten Buleleng sehingga dapat menguatkan dan mengurangi kerawanan ketahanan pangan. Talas kuning memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai sumber pangan lokal. Ukurannya yang besar dengan kadar protein yang tinggi serta warna kuning yang menarik adalah kelebihan yang dimiliki talas kuning dan menjadi ciri khas talas ini.

Sebelum memberikan bibit talas kuning kepada masyarakat, Dinas Pertanian terlebih dahulu melakukan Demplot atau Demontration Plot talas kuning tersebut sebagai penyuluhan kepada petani, dengan cara membuat lahan percontohan, di Subak Babakan, Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada. Talas kuning ini ditanam di lahan seluas 1 hektar. Setelah beberapa bulan, kini talas kuning tersebut sudah memasuki masa panen. Dari lahan 1 hektar, Pemkab Buleleng berhasil mengumpulkan 20 kwintal talas kuning.

Demplot ini dilakukan untuk merangsang minat petani untuk membudidayakan talas kuning. Nantinya petani bisa melihat dan membuktikan hasil panen dan pemasaran dari talas kuning tersebut. Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng Ir. Nyoman Genep,MT, saat ditemui diruang kerjanya. Menurutnya, harga jual talas kuning ini sangat bagus dipasaran.

“Kemarin saya lihat petani menjual sepuluh ribu perkilo, sedangkan ukurannya cukup besar. Satu batang umbi bisa mencapai berat 1 kilo lebih,” tuturnya.

Genep menjelaskan, demplot ini akan terus dilaksanakan untuk menarik minat petani. Ia menambahkan, setelah petani berminat, Dinas Pertanian akan memberikan bibit kepada masyarakat. Ia mengatakan, talas kuning tersebut bisa dijadikan beberapa olahan.

“Talas kuning ini bisa dijadikan bahan makanan kering dan basah sehingga pasarannya tidak ada kendala,” ungkapnya.

Selanjutnya, Genep mengatakan, petani talas di Kabupaten Buleleng sudah hampir punah. Ini menyebabkan ketersediaan pangan non beras di Kabupaten Buleleng jadi berkurang. Menurutnya, talas juga merupakan kebutuhan pokok selain beras.

“Setelah berhasil, nantinya talas ini akan diolah oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) sehingga bisa menjadi nilai tambah dalam pemasaran,” katanya.

Talas mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi. Umbi, pelepah daunnya banyak dimanfaatkan sebagai bahan makanan, obat maupun pembungkus. Daun, sisa umbi dan kulit umbi dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan ikan secara langsung maupun setelah difermentasi. Tanaman ini mempunyai keterkaitan dengan pemanfaatan lingkungan dan penghijauan karena mampu tumbuh di lahan yang agak berair sampai lahan kering. Dengan demikian, talas ini diyakini sangat cocok dengan kondisi geografis di Buleleng.

Advertisement

Tinggalkan Komentar...