Pengerajin arak
Pengerajin arak

KARANGASEM, balipuspanews.com – Menjadi seorang petani penyadap tuak skaligus pengrajin arak traditional adalah satu satunya mata pencarian yang selama ini menghidupi keluarga I Ketut Togog (50) asal Banjar Undisan, Desa Lantang Katik, Sidemen, Karangasem.

Bukan hanya sekedar pencaharian, aktivitas membuat arak traditional ini bahkan sudah menjadi usaha yang diwariskan secara turun temurun oleh pendahulunya. “Saya melanjutkan usaha dari almarhum ayah saya, ini bisa dibilang usaha turun temurun,” kata Pria yang memiliki lima orang anak ini ketika media ini berkunjung ditempat pemasakan araknya pada Selasa (01/10/2019).

Dalam prosesnya, untuk mendapat bahan baku utama pembuatan arak yaitu tuak, setiap hari Ketut Togog harus memanjat sebanyak 25 pohon kelapa yang ia disadap. Dari satu pohon kelapa yang disadap menghasilkan satu liter tuak dalam waktu satu hari satu malam.

Tuak hasil sadapan biasanya diambil setiap pagi dengan cara menaiki pohon kelapa satu persatu sembari membawa sebuah wadah dan senjata menyerupai parang untuk membersihkan bagian kelapa yang disadap.

Dalam sekali ambil, Togog bisa mengumpulkan tuak sebanyak 25 liter. Tuak hasil sadapannya inilah yang akan diolah sebagai bahan baku utama pembuatan arak. Setelah terkumpul, tuak tersebut kemudian dituang kedalam drum yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa agar saat proses pemasakannya tidak bocor.

Tuak yang sudah dituang kedalam drum kemudian dimasak diatas tungku dengan menggunakan api yang tidak terlalu besar. Dibagian atas drum terdapat dua buah pipa dengan panjang sekitar 4 meteran yang terhubung langsung dengan gentong air sebagai pendinginnya.

Setelah dimasak selama beberapa jam, uap yng dihasillan kemudian mengalir melalui pipa tersebut menuju kependingin sebelum akhirnya menetes dari lubang pipa. Tetesan inilah yang disebut dengan arak. Untuk satu botol arak tetesan pertama warga setempat menyebutnya “Arak Laingan”.

“Arak Laingan” memiliki sejumlah manfaat, salah satunya banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan terapi oleh sejumlah teraphis. Setelah satu botol pertama, barulah keluar arak kelas Satu dengn kadar alkohol hingga diatas 30 persen.

“Untuk perbandingannya, 120 liter tuak yang dimasak bisa hasilkan sebanyak 15 liter arak, 5 liter diantaranya adalah arak dengan kualitas nomor dua sedangkan 10 botol sisanya adalah arak dengan kadar alkohol kelas satu.

Selama ini, Arak – arak yang dihasilkannya dijual kepada salah seoranag pembeli yang sudah menjadi langgann Ketut Togog dengan harga Rp. 30 ribu perbotol untuk kelas satunya sementara untuk kelas dua dijual dengan harga Rp. 20 ribu.

ilingkungan tempat tinggal Ketut Togog, memang hampir seluruh warga memiliki peralatan untuk menyuling tuak. Bahkan satu kepala keluarga memiliki satu tempat penyulingan.(suar/bpn/tim)