Penggarapan Jenazah COVID – 19, PHDI Wajibkan Gunakan Sesajen Sederhana tanpa Melibatkan Massa

JAKARTA, balipuspanews.com – Parisadha Hindu Darma Indonesia (PHDI) pusat mengeluarkan himbauan perawatan jenazah dan upacara Pitra Yadnya bagi pasien yang meninggal akibat penyakit COVID 19.

Hal ini tertuang dalam surat edaran Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) pusat yang ditandatangi oleh Ketua Sabha Walaka, Purnawirawan Kolonel Infantri (Purn) I Nengah Kaka dan Ida Pedanda Nabe Bang Buruan Dharma Adyaksa Parisadha Hindu Dharma Pusat serta Ketua Harian Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya

Dalam surat edaran itu disebutkan memperhatikan kondisi wabah COVID-19 dan perkembangannya dewasa ini, sangat dibutuhkan komitmen dan tanggung jawab semua pihak untuk bekerjasama menyelesaikan masalah guna mempercepat penghentian penyebaran COVID-19.Untuk itu, umat Hindu wajib falam hal pasien COVID-19 meninggal dunia baik yang dirawat di rumah sakit (RS) maupun yang melakukan karantina atau isolasi mandiri di rumah atau pasien dalam pengawasan (PDP), termasuk orang dalam pemantauan (ODP) maka perawatan jenazah tidak boleh ditangani sendiri secara tradisional melainkan dilaporkan ke RS yang menangani COVID-19,untuk selanjutnya ditangani oleh petugas yang berkompeten

Selanjutnya soal perawatan jenazah di ruang rawat atau kamar isolasi, ruang jenazah menuju dan sampai di pemakaman atau kremasi wajib mematuhi Standar Operasional Prosedur (SOP) pemulangan jenazah pasien COVID-19 yang ditetapkan oleh pemerintah. Penjelasan SOP dimaksud dapat diminta kepada petugas setempat berwenang.

Untuk Proses upacara Pitra Yadnya sebaiknya sampai”Mendem/makingsa ring agni” melalui kremasi, atau”Mendem ring pratiwi”(dikubur) dengan upacara atau sesajen sederhana tanpa mengurangi makna/tatwa agama Hindu, sehingga tidak melibatkan banyak orang.

Tirtha pabresihan, panglukatan,dan pangentas dimohonkan Kepada pandita/sulinggih yang diproses di geria sulinggih/pandita pamuput karya,sedangkan proses upacara di krematorium atau di pemakaman dilaksanakan hanya oleh pinandita lokaspalasraya,Sarati Banten,dan pihak keluarga terdekat dengan jumlah yang sangat terbatas dengan tetap mematuhi protokoler kewaspadaan terhadap COVID-19 guna mencegah terjadinya penularan.

Jika pihak keluarga korban menginginkan langsung ngaben sebaiknya upacaranya dilaksanakan melalui proses kremasi atau pembakaran jenazah, tetapi bagi komunitas umat Hindu yang menganut tradisi”Mendem Ring Prthiwi” dapat melakukan upacara Pitra Yadnya di pemakaman dan upacaranya dipimpin (kapuput) oleh Pandita/Sulinggih Tidak melibatkan an-najah orang serta wajib mematuhi protokoler kewaspadaan terhadap COVID-19;

Bagi PDP dan ODP yang meninggal bukan di RS penanganan COVID-19,pihak keluarga wajib melaporkan kematian itu terhadap pihak berwenang,terutama kepada pihak RS Penanganan COVID-19 setempat (Proses perawaran jenazah dan ritual/upakara dan upacaranya sama dengan perlakuan terhadap jenazah pasien COVID-19 yang meninggal di RS);

Untuk komunitas umat Hindu yang memiliki atau menganut tradisi atau budaya keagamaan yang berbeda maka proses perawatan jenazahnya tetap mengikuti dan mematuhi SOP Pemulasaran Jenazah Pasien COVID-19 serta protokoler kewaspadaan terhadap COVID-19;

Kepada seluruh pengurus Parisada Hindu Indonesia Provinsi dan Kabupaten/Kota agar melakukan sosialisasi atau diseminasi kepada seluruh Ormas Keagamaan Hindu dan umatnya di wilayahnya masing-masing serta melaksanakan koordinasi dengan pihak yang berwenang;

Kepada seluruh umat Hindu sangat diharapkan untuk tetap waspada dan setia melaksanakan sosial distancing serta protokoler kewaspadaan terhadap COVID-19 guna mendukung kebijakan pemerintah dalam memutus rantai penyebaran atau penularan COVID-19 sehingga kehidupan masyarakat bangsa dan negara segera pulih. (Art/BPN/tim)