Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Singaraja, balipuspanews.com — Penglukatan Gerembengan terletak di Dusun Juwuk Manis, Desa Alasangker, Kecamatan Buleleng cocok menjadi refrensi bagi penekun spiritual. Lokasi penglukatan ini diapit tebing sempit yang lebarnya sekitar 5 meter.

Konon, tempat ini sangat bares (murah hati), hingga tak sedikit pemedek naur sesangi (bayar kaul) di tempat penglukatan itu, setelah permohonannya terkabulkan.

Penglukatan Gerembengan ini akan menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Meski berada di tengah goa yang gelap dan sempit, namun jika berhasil menuntaskan penglukatan di tempat ini akan menjadi atmanastuti (kepuasan bathin) tersendiri.

Lokasinya berada di tengah perkebunan, tak menyurutkan para pemedek yang ingin nangkil menyucikan diri. Saban hari, jumlah pemedek kian ramai mengunjungi tempat ini, meskipun harus bersusah payah menjangkaunya.

Baca Juga: “Porosan” Sarana Tuntunan Ida Hyang Widhi

Bagi pemedek yang ingin nangkil, diharapkan untuk terlebih dahulu mandi di pancuran yang ada di pinggir jalan setapak sebelum masuk areal penyucian. Setelah bersih barulah melanjutkan perjalanan menuju penglukatan Gerembengan dengan bekal sarana suci seiklhasnya, seperti pejati, canang sari.

Pemedek harus rela berjalan kaki menjangkau lokasi, dengan menempuh jarak sekitar 300 meter. Jalan yang dilalui berupa jalan setapak di tengah perkebunan singkong milik warga setempat.

Sebelum sampai di lokasi, pemedek harus menuruni puluhan anak tangga dengan kedalaman sekitar 20 meter. Sesampai di bawah pemedek akan menemukan tukad (sungai). Aliran itulah yang dilalui hingga sampai di sebuah gua yang diapit dinding terjal.

Sebelum melukat, pemedek terlebih dahulu melakukan persembahyangan di pelinggih itu dengan sarana pejati atau canang sari. Setelah itu, barulah pemedek mulai masuk ke dalam celah sempit tebing yang mirip menyerupai gua, namun masih ada celah cahaya di atasnya.

Ajaibnya, meski sempit, tetapi celah itu tetap bisa dilewati sekalipun dengan orang yang bertubuh tambun dengan cara memiringkan badan agar bisa sampai di bawah pancuran yang menjadi tempat melakukan penyucian atau penglukatan.

Menurut mantan Kelian Banjar Adat Juwuk Manis, Gusti Komang Mahayasa, Penglukatan Gerembengan sudah dikenal sejak dahulu sebagai tempat melakukan pesiraman atau penyucian. Lokasi pasiraman memang dikeramatkan oleh warga setempat.

Konon, dari penuturan para pendahulunya, sumber air yang digunakan untuk melukat berasal dari Pura Bukit Alit. Aliran air dari Pura Bukit Alit ke Penglukatan Gerembengan disebut Tukad Saloning. Bahkan tempat Penglukatan Gerembengan sudah diyakini secara turun-temurun sejak dahulu memiliki kekuatan untuk penyucian.

“Kenapa disebut saloning, karena alirannya kecil, lambat tetapi selalu jernih. Hulunya dari Pura Bukit Alit dan hilirnya di pancuran Penglukatan Gerembengan,” kata Gusti Komang Mahayasa.

Pria yang akrab dipanggil Gusti Maha ini membeberkan kebertuahan dari aliran air Saloning ini. Selain dimanfaatkan oleh subak setempat untuk irigasi sawah, ada beberapa pantangan yang tak boleh dilanggar berkaitan dengan penggunaan air saloning ini.

“Sepanjang aliran air dari Pura Bukit Alit hingga Pesiraman Gerembengan ini sangat disakralkan. Tak boleh digunakan untuk mandi, atau dikencingi apalagi tempat buang air besar. Hanya bisa dipakai untuk minum, cuci muka atau aktivitas memasak serta irigasi,” terangnya.

Lalu apa akibatnya jika dilanggar?

“Dulu ada yang berendam di aliran air ini. Setelah pulang langsung sakit dan meninggal. Jadi tak boleh main-main. Kalau ingin melukat sambil mandi hanya boleh di teben (hilir) di pesiraman gerembengan. Selebihnya di sepanjang aliran tidak diperkenankan,” bebernya.

Saking bertuahnya air ini, pernah ada pemedek asal Gianyar yang dalam kondisi sakit ke tempat ini. Bahkan sudah ditolak di RS Sanglah karena kondisinya sakit parah. Banyaknya pengalaman pemedek yang mendapat kesembuhan membuat tempat ini dinilai bares oleh pemedek.

“Setelah dibawa kesini melukat, ternyata bisa sembuh. Karena permohonannya direstui akhirnya pemedek itu bayar kaul. Dan banyak pemedek yang merasakan khasiat air ini, sehingga sering disebut bares,” paparnya.

Pemedek yang ingin tangkil ke pesiraman ini sebut Gusti Maha harus memperhatikan beberapa hal. Diantaranya pemedek yang sebel, cuntaka, datang bulan dilarang melukat ke pesiraman ini.

Meski begitu, bagi pemedek yang hamil sangat dianjurkan, demi memudahkan persalinan dan menyucikan bayi yang dikandungnya.

Konon, dari penuturan pendahulunya, lokasi ini dijaga makhluk tak terlihat sebagai bala ancangan. Mulai dari Kepiting, Naga hingga Kerbau. Tetapi pemedek tak usah khawatir, selama niat melakukan penyucian dilakukan secara tulus dan ikhlas.

“Terpenting harus pikiran yang suci. Kalau niat tidak baik, akan sulit masuk ke tempat penglukatan. Tidak bisa melewati dinding yang sempit. Padahal segemuk apapun kalau niatnya suci akan bisa masuk. Tapi kalau niat tak bagus, akan sulit masuk. Malah hanya bisa di luar saja,” tutupnya.

Advertisement

Tinggalkan Komentar...